Selasa, 23 November 2010 14:48 WIB Kolom Share :

Jangan pernah kehilangan harapan…

Sebagian dari para pembaca mungkin pernah mendengar kisah heroik Stephen Callahan, seorang pelaut dan pembuat kapal. Pada tahun 1982, dia membuat dunia gempar dengan 76 hari bertahan hidup di tengah lautan lepas.

Awalnya, dia melakukan eksibisi menyeberangi lautan Atlantik sendirian. Namun di tengah perjalanan, sebuah kecelakaan membuat kapalnya karam. Dia terapung-apung di tengah paparan panas, dingin, juga incaran bahaya tak terduga di lautan. Tetapi dia terus bertahan hidup dengan peralatan seadanya. Hingga 76 hari kemudian, dia ditemukan oleh 3 orang nelayan dalam keadaan hidup. Dia sangat kurus, hampir mati, tetapi dia masih hidup.

Dia hanya makan ikan-ikan kecil yang berseliweran di sekitarnya, dan berusaha menguapkan air laut untuk mendapatkan air segar. Tetapi kunci perjuangannya adalah, bagaimana dia tidak pernah kehilangan harapan untuk hidup, untuk bertahan betapapun kesulitan dan kematian itu begitu dekat menghampiri setiap saat.

Apa yang dialami saudara-saudara kita korban erupsi Gunung Merapi, lebih dari kisah ajaib Callahan. Mereka yang tergopoh-gopoh lari dari kejaran awan panas wedhus gembel bukan hanya untuk menyelamatkan satu-satunya nyawa yang melekat di raga. Sebagian dari mereka lari, dengan bayang-bayang kehilangan segala harta benda, sanak dan keluarga. Mereka harus lari membawa hidup, meski hanya hidup itu yang masih tersisa.

Sebagian besar dari mereka, yang berada dalam radius dekat Gunung Merapi, benar-benar telah terlucuti dari dunia fisik yang telah menaungi sejarah kehidupan mereka. Rumah, dusun dengan segala sudutnya yang selalu pantas dikenang, tempat mereak dan nenek moyang berperadaban; kawan atau sanak kerabat yang tinggal nama, atau bahkan anak, isteri, orangtua yang tiba-tiba tinggal cerita.

Bagi mereka yang sudah berusia dewasa, meski sangat berat, akan lebih mudah menerima cobaan ini, betapapun beratnya. Lain cerita bagi mereka yang masih anak-anak, atau mereka belum mapan secara kejiawaan. Seorang kawan psikolog pernah bercerita, penanganan kejiwaan korban adalah langkah kedua setelah fase tanggap darurat bencana. Tak heran jika relawan Palang Merah Indonesia (PMI), Pramuka, mahasiswa, para seniman, termasuk kawan-kawan seniman yang tergabung dalam Forum Pekerja Seni Solo Peduli Merapi (FPSSPM), melakukan berbagai langkah trauma healing untuk menghibur korban, memandu korban menerima cobaan ini, mengantarkan mereka menemukan harapan-harapan, untuk selanjutnya bangkit dari trauma.

Butuh waktu panjang

“Upaya trauma healing ini akan membutuhkan waktu yang panjang, bukan hanya sehari dua hari, tetapi bisa berbulan-bulan,” kata Medy Sulistyanto, relawan yang juga dosen termasuk Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Langkah serupa diambil kawan-kawan FPSSPM yang telah memikirkan berbagai langkah khas seniman untuk melakukan program pendampingan korban Merapi, termasuk melakukan trauma healing secara berkelanjutan. Para relawan dari berbagai kota, termasuk dari luar negeri, juga melakukan hal yang sama: Membantu warga korban erupsi Merapi untuk melanjutkan hidup, menemukan kembali cahaya dan harapan hidup.

Jeng Kenes, kawan saya yang awam dengan operasi pemulihan pascabencana, terkejut membaca berita SOLOPOS, Minggu (21/11). Pejabat Kementerian Kesehatan menyebut angka hampir 12.000 orang yang mengalami gangguan kejiwaan akibat bencana Merapi.

“Separah itukah?” tanya Kenes masygul. Belakangan dia mulai mendengar cerita teman-teman relawan yang kerepotan menghadapi ulah beberapa pengungsi yang angel disrateni. Misalnya, dikasih baju bekas pantas pakai minta yang baru, diberi mi instan rebus malah minta mi goreng, dan lain-lain.

“Pengungsi itu macam-macam. Ada yang benar-benar kehilangan seluruh harta bendanya, kehilangan keluarga, ada yang lari karena tempat tinggalnya masuk kawasan rawan. Masing-masing membutuhkan penanganan berbeda,” jelas Mas Boy yang bersama kantornya beberapa kali ikut membagi logistik ke pengungsian. Hebatnya, kata Mas Boy, ada pula korban, yang telah kehilangan segalanya justru terlihat tegar dan ikut membantu para relawan.

Ya, sering kali orang-orang yang mampu menyelamatkan diri dari tragedi, akan mendapati diri mereka lebih kuat, tidak mudah dilemahkan oleh kesulitan. Mereka akan mampu melihat kesempatan dalam kesengsaraan, melihat harapan dalam puing-puing kehancuran. Dan seperti kata orang bijak, betapa mulia Tuhan menciptakan harapan sebagai penghubung yang nyata antara kita dengan masa depan. Sekecil apa pun harapan itu, ia tetap sebuah harapan. Jadi jangan pernah kehilangan harapan, karena suatu saat dia akan memandu kita, untuk meraih hidup yang lebih baik. Sebuah kehidupan yang mungkin tidak akan kita duga….

Suwarmin

Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…