Selasa, 23 November 2010 16:28 WIB News,Kesehatan Share :

Gejala kanker nasofaring mirip flu biasa

Jakarta--Di Indonesia kanker nasofaring (bagian atas faring atau tenggorokan) merupakan kanker terganas nomor 4 setelah kanker rahim, payudara dan kulit. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari gejala kanker ini, karena gejalanya hanya seperti gejala flu biasa.

Kanker nasofaring atau dikenal juga dengan kanker THT adalah penyakit yang disebabkan oleh sel ganas (kanker) dan terbentuk dalam jaringan nasofaring, yaitu bagian atas faring atau tenggorokan. Kanker ini paling sering terjadi di bagian THT (telinga hidung tenggorokan), kepala serta leher.

Di Indonesia, kanker nasofaring merupakan keganasan yang menduduki peringkat terbanyak bidang Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), serta menduduki peringkat ke-4 dari seluruh keganasan, setelah kanker rahim, payudara dan kulit.

“Tapi kanker ini sulit untuk didiagnosa pada stadium dini karena tidak memiliki gejala yang khas. Gejalanya hanya seperti gejala flu biasa,” jelas dr Budianto Komari, Sp.THT dari KSMF THT RS Kanker Dharmais, dalam acara penyuluhan ilmiah untuk awan ‘Diagnosa & Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring’ di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (23/11/2010).

Menurut dr Budi, banyak orang yang tidak menyadari menderita kanker nasofaring. Gejalanya yang tidak khas sering membuat kanker ini salah diagnosa.

dr Budi menjelaskan, gejala dini kanker nasofaring antara lain:

1. Epitaksis (pendarahan hidung atau mimisan) ringan
2. Hidung tersumbat
3. Telinga berdenging sebelah
4. Diplopi (penglihatan ganda atau ada dua bayangan)
5. Ada benjolan di leher yang tidak sakit

“Gejala-gejala ini sering dianggap gejala flu biasa dan diabaikan begitu saja, sehingga banyak orang yang tidak sadar menderita kanker nasofaring dan datang dalam keadaan terlambat,” jelas dr Budi lebih lanjut.

Kanker nasofaring disebabkan oleh beberapa faktor risiko antara lain adanya paparan virus Epstein-Barr. Virus Epstein-Barr sebenarnya banyak terdapat dimana-mana, bahkan di udara bebas. Hanya saja tidak semua akan menjadi kanker, virus ini akan tetap ‘tidur’ di nasofaring jika tidak dipicu faktor-faktor tertentu.

Faktor-faktor pemicu aktifnya virus Epstein-Barr antara lain:

1. Genetik. Ras Mongoloid tercatat paling banyak menderita kanker nasofaring karena memiliki gen tertentu.
2. Cara hidup yang tidak sehat, seperti sering terkena polusi, asap, asap rokok, alkohol.
3. Cara makan yang tak sehat, seperti sering makan ikan asin, makanan awetan yang diasap atau fermentasi, dan memasak dengan kayu.
4. Pekerjaan dan keagamaan. Orang yang bekerja di pabrik yang banyak gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, serbuk kayu. Dan kegiatan keagamaan seperti dupa dan menyan.

Tapi menurut dr Budi, kanker nasofaring merupakan kanker yang bisa diobati. Kanker ini sensitif terhadap radioterapi dan kemoterapi, jadi kemungkinan sembuh sangat besar bila dapat didiagnosa sejak awal.

“Orang harus curiga bila menderita gejala-gejala yang mirip flu biasa ini, apalagi kalau orang tersebut memiliki keturunan yang menderita kanker atau sering menjalani gaya hidup tak sehat,” tutup dr Budi.


dtc/tya

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…