Senin, 22 November 2010 01:41 WIB Boyolali Share :

Lahan pertanian di Selo rusak hampir 75 persen

Boyolali (Espos)–Sebagian besar petani di Selo belum dapat mengolah tanah untuk ditanami karena tanah tertutup abu dengan ketebalan tertentu. Setidaknya, mereka harus menunggu hingga status Merapi turun.

Seperti apa yang diungkapkan salah seorang petani sayur di Dukuh Temusari, Lencoh, Ngadimin saat ditemui <I>Espos<I> di ladang milik keluarga, Minggu (21/11).

“Beberapa bulan ke depan, kami belum bisa mengolah tanah untuk ditanami lagi. Kami harus menunggu sampai kondisi Merapi betul-betul aman. Jangan-jangan, tanah sudah diproses, Merapi meletus lagi. Saat ini, kami konsentrasi ke hewan ternak dahulu,” ujarnya.

Menurut Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Selo, Haryono STP, petani memang belum bisa mengolah tanah karena Merapi masih beraktivitas. Selain itu, tanah di Selo membutuhkan perlakukan khusus setelah diguyur hujan abu. Hanya beberapa petani saja yang mulai mengolah tanah. Tetapi jumlahnya tak seberapa dibanding petani yang belum mengolah tanah.

“Kerusakan lahan di Selo hampir 75 persen. Kondisi paling parah untuk lahan di sekitar lereng Merapi, seperti Suroteleng, Samiran, Lencoh, Jrakah, Klakah dan Tlogolele ini total. Kalau diolah sekarang, rasanya eman-eman. Kami berjaga-jaga bila Merapi meletus lagi. Sehingga, kami menunggu hingga akhir bulan. Bila tak ada aktivitas lagi, kami siap mengolah tanah dan menanam lagi,” ujarnya saat ditemui Espos di rumah, Minggu.

Selain itu, Haryono telah memeriksakan kandungan tanah pertanian di Selo pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Ungaran. Derajat keasaman abu (PH abu-red), 7,5. Sedangkan PH tanah, 6,5. Padahal, sayuran masih dapat bertahan bila PH tanah antara 6,5-7. Selebihnya, akan menghambat perkembangan tanaman.

“Saya pun sudah konsultasi ke BPTP Ungaran untuk pengolahan tanah yang diguyur abu. Petani harus menggunakan teknik pengolahan tanah dalam. Bila ketebalan abu antara 3-4 sentimeter dapat diupayakan perbaikan tanah dalam hitungan bulan. Sedangkan selebihnya, baru dapat diperbaiki setelah lima tahun. Artinya, abu sudah dapat bercampur dengan tanah. Proses perbaikan tanah menggunakan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton per hektare,” ulasnya.

Masih menurut Haryono, petani dapat menikmati hasil sekitar 4-5 bulan setelah pengolahan tanah. “Sementara tidak ada aktivitas pertanian. Nanti setelah normal, panen pertama baru dapat dilaksanakan 4-5 bulan setelah pengolahan tanah. Lagipula, belum ada bantuan bibit sayuran. Karena dalam kasus ini, pengolahan tanah adalah hal yang paling merepotkan. Jadi, fokus ke pengolahan tanah dulu. Kami pun sembari menunggu hujan,” pungkasnya.

m88

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…