Senin, 22 November 2010 08:39 WIB News Share :

Derita tak bertepi TKI di Arab Saudi

Jakarta–Berita penganiayaan para TKI di Arab Saudi seakan menjadi makanan sehari-hari. Belum tuntas satu masalah, timbul lagi masalah lain yang lebih pelik. Masihkah pengiriman TKI ke negeri para nabi ini dilanjutkan?

Sumiyati, TKW malang asal Nusa Tengara Barat (NTB) seolah mengingatkan kita pada tragedi-tragedi penganiayaan oleh majikan terhadap TKI di Arab Saudi. Padahal, para pahlawan devisa ini tulus meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk tujuan yang mulia.

Sumiati misalnya, tujuan dia ke Arab Saudi adalah untuk mengumpulkan uang demi memenuhi cita-citanya, menjadi guru. Dia pun rela jauh dari keluarga untuk membiayai kuliah kelak agar jadi seorang guru. Namun, belum sampai cita-cita itu terwujud, tubuh mungilnya babak belur dihajar oleh majikan.

Kasus Sumiati belum usai, muncul lagi kasus yang lebih sadis, TKI asal Cianjur, Jawa Barat, Kikim Komalasari ditemukan tewas di sebuah tong sampah. Tak pelak, kedua kasus penganiayaan yang mengebohkan itu mendapatkan perhatian serius Presiden SBY.

“Pelakunya tentunya harapan kita mendapat sanksi hukum yang setimpal,” kata SBY saat membukan rapat internal soal TKI di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (19/11) lalu.

Bahkan untuk memudahkan pelaporan TKI jika mendapat perlakuan yang tidak adil dan tidak baik, SBY mengusulkan mereka difasilitasi handphone (HP).

“Saat ini sedang dirumuskan mereka akan diberi HP dan dijelaskan kepada siapa mereka harus memberi tahu (melaporkan) dan apa saja yang dilaporkan,” kata SBY.

Namun banyak yang berpendapat pemberian HP kepada para TKI bukanlah solusi. Pemerintah diminta tegas, atau kalau perlu tidak lagi mengirimkan TKI ke Arab Saudi.

“Perlu pendataan ulang kembali bagi TKI yang sudah bekerja di luar negeri. Sementara dihentikan dulu yang akan dikirim,” kata Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo seperti dilansir, Jumat (19/11).

Politisi PDIP lainnya, Rieke ‘Oneng’ Pitaloka meminta pemerintah seharusnya malu karena tidak bisa menyediakan lapangan kerja di dalam negeri. Akibat dari minimnya lapangan kerja di Tanah Air, ribuan warga Indonesia bermigrasi ke Arab Saudi untuk mengadu nasib sebagai pembantu dan pekerja kasar yang lain.

“Kalau tidak mampu melindungi TKI kita, jangan mengirim (TKI). Harusnya malu pemerintah karena tidak bisa menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, ribuan orang menjadi pekerja kasar di negeri orang,” ucap Rieke.

Protes terhadap Arab Saudi pun juga tiada henti. Hampir setiap hari berbagai demonstrasi mengecam perlakuan keji oleh para majikan di Arab Saudi berlangsung. Hari ini saja, Kedubes Arab Saudi yang terletak di Jl MT Haryono didemo oleh tiga kelompok massa.

Meski pemerintah Arab Saudi menjamin penganiaya Sumiati akan ditahan, namun janji ini tidak menyurutkan masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk terus memperjuangkan keadilan bagi pahlawan devisa yang kini sedang teraniaya itu.

“Saudi Arabia penjahat kemanusiaan,” demikian bunyi spanduk kecaman yang dibawa salah seorang demonstran depan Kedubes Arab Saudi beberapa waktu lalu.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…