Senin, 22 November 2010 14:44 WIB News Share :

2.828 Ekor sapi mati akibat letusan Gunung Merapi

Jogja–Bencana letusan Gunung Merapi memang masih menyisakan duka. Tak terkecuali bagi warga yang hewan ternaknya mati akibat terpanggang awan panas Merapi. Dilaporkan sebanyak 2.828 ekor sapi mati akibat musibah itu.

“Sebanyak 2.828 ekor sapi dari seluruh wilayah kawasan Merapi mati akibat letusan Merapi tanggal 26 Oktober hingga 5 November lalu,” kata Koordinator Tim Divisi Identifikasi Ternak Merapi, Prof Ida Tjahajati di Media Center Tanggap Darurat Bencana Merapi, Jl Kenari Jogja, Senin (22/11).

Ida menyampaikan, dari jumlah itu, 2.394 ekor berasal dari Sleman, DIY 357 ekor dari wilayah Jateng, 66 ekor dari Boyolali dan 11 ekor dari Magelang.

Sebanyak 10.073 ekor sapi berhasil diselamatkan dan dievakuasi. Rinciannya yaitu, sapi dari Sleman 3.321 ekor, Klaten 2.422 ekor, Magelang 3.025 ekor, dan Boyolali 1.305 ekor. Dari jumlah itu, hanya 3.783 ekor sapi yang akan dijual oleh para pemiliknya.

“Ini membuktikan masih banyak warga yang merasa hewan ternak adalah satu-satunya harta yang mereka miliki. Sapi itu hanya akan mereka jual ketika benar-benar sangat butuh uang. Kalau tidak, ya tidak dijual,” tukas Koordinator tim Divisi Eksekusi dan Distribusi, Prof Ali Agus yang juga dosen Fakultas Peternakan UGM.

Menurut Ali, ada 2 rencana pemerintah setelah membeli sapi yang dijual warga, yaitu memberikan sapi itu ke pemilik sapi yang mati atau memberikannya kepada kelompok ternak yang ada di wilayah tersebut.

Sementara itu, Ida menghimbau agar para pemilik sapi yang mengungsi tidak perlu risau karena sapi yang mati pasti akan diganti pemerintah.

“Sapi yang mati pasti akan diganti pemerintah tapi perlu waktu,” sebut Ida yang juga Direktur Rumah Sakit Hewan Soeparwi UGM ini.

Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan harga untuk tiap kategori ternak di kawasan zona berbahaya Merapi. Untuk kategori perah induk Rp 10 juta, dara bunting Rp 9 juta, dara tidak bunting Rp 7 juta, pedet umur 0-3 bulan Rp 2,5 juta dan pedet umur 3-6 bulan Rp 5 juta.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…