Minggu, 21 November 2010 22:25 WIB Boyolali Share :

Warga Takeran terancam krisis air bersih

Boyolali (Espos)--Warga di Dukuh Takeran, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali terancam krisis air bersih. Hal itu menyusul instalasi pipa air bersih yang menuju dukuh tersebut mengalami kerusakan akibat erupsi Merapi.

Dari pantauan Espos di lokasi, Sabtu (20/11), bak-bak penampungan air yang berada di depan rumah warga kotor, karena terkena abu vulkanik Merapi. Sejumlah warga harus menyaring terlebih dahulu air yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara, pipa yang mengalir ke bak penampungan juga mengalami penurunan debit, karena terjadi kerusakan di sekitar puncak Merapi.

Salah seorang warga Takeran, Tlogolele, Selo, Ponidi, mengatakan sebelumnya air yang menuju bak penampungan itu sempat tidak mengalir. Hal itu dikarenakan pipa mengalami kerusakan dan air yang mengalir bercampur dengan abu vulkanik.

“Baru beberapa hari ini mengalir. Sebelumnya rusak total. Ada warga yang berinisiatif membenahi jaringan pipa, tetapi karena abu vulkanik yang sangat tebal, membuat jaringan pipanya juga mengalami kotor,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu.

Ponidi mengatakan air bersih di dukuhnya yang berjarak sekitar empat kilometer dari puncak Merapi itu diambil dari sumber air yang berada di Dukuh Sepi, Desa Jrakah yang berjarak sekitar delapan kilometer. Dari sumber air, jelas Ponidi, air dialirkan menggunakan pipa paralon. Kemudian air ditampung di bak-bak yang ada di tiap rumah warga.

Akibat kesulitan air bersih itu, jelas Ponidi, sejumlah warga yang berada kurang dari radius lima kilometer dari puncak Merapi memilih tidak memasak. Termasuk, jelas Ponidi, para warga memilih makanan yang dibawa saat berada di pengungsian.

Senada, salah seorang warga Takeran, Suwarni mengatakan dirinya bersama sejumlah tetangganya hanya memanfaatkan air mineral bantuan dari sejumlah donatur digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Sehingga, sangat terbatas hanya untuk minum. Sedang, untuk kegiatan memasak atau lainnya, mereka memanfaatkan air yang ada.

“Kalau air di bak kotor, kami harus menampung terlebih dahulu. Selain itu juga memanfaatkan air mineral bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Suwarni.

Baik Ponidi maupun Suwarni berharap pemerintah segera mengedrop bantuan air bersih bagi warga. Pasalnya, hingga saat ini pihaknya belum memperoleh bantuan dari Pemkab terkait bantuan air maupun yang lainnya.

“Bantuan di sini (Takeran-red) masih sedikit. Padahal ada sekitar 110 KK yang ada. Bantuan hanya lewat saja, tidak merata,” jelas dia.

Diakuinya, sejumlah warga di Desa Tlogolele sebagian sudah kembali dari pengungsian. Namun, saat berada di rumah juga tetap waspada, karena kondisi Merapi yang masih berstatus Awas.


fid

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…