Minggu, 21 November 2010 09:59 WIB News Share :

Taman Kuliner di Sleman sepi pengunjung

Sleman–Taman Kuliner Condongcatur, Kabupaten Sleman, DIY, pascaerupsi Gunung Merapi sepi pengunjung, bahkan banyak pedagang makanan yang sengaja tidak berjualan.

“Sejak Gunung Merapi meletus pada akhir Oktober lalu taman kuliner sepi pengunjung dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, bahkan banyak pedagang makanan yang meliburkan diri atau tidak berjualan selama beberapa hari,” kata salah seorang penjual makanan di Taman Kuliner Condongcatur, Sleman, DIY, Pargio, Sabtu (20/11).

Ia mengatakan saat ini sudah tampak pembeli mulai berdatangan ke taman kuliner.

“Meskipun tidak seramai sebelum Merapi meletus, tetapi sekarang sudah mulai ada sejumlah pengunjung di tempat ini,” ujarnya.

Pargio mengemukakan setelah Gunung Merapi meletus, dirinya sempat tidak berjualan selama empat hari, karena di taman kuliner banyak abu vulkanik.

“Karena banyak abu vulkanik, kami sengaja menutup warung, dan tidak berjualan selama beberapa hari,” imbuhnya.

Akibatnya, lanjut dia, dirinya mengalami kerugian karena tidak ada pendapatan dari bisnis kulinernya.

“Pada hari biasa kami bisa memperoleh pendapatan rata-rata RP 1,5 juta, sekarang dalam kondisi sepi pengunjung hanya memperoleh rata-rata Rp 700.000 per hari,” jelasnya.

Pargio menyampaikan dirinya telah lama berjualan makanan di Taman Kuliner ini. Sejak tempat ini diresmikan, baru kali ini dirinya mengalami kerugian karena tidak bisa berjualan akibat banyak abu vulkanik, serta sepinya pengunjung.

“Selama beberapa tahun saya berjualan rawon di Taman Kuliner ini, baru sekarang mengalami penurunan omzet karena sepi pembeli, dan bahkan beberapa hari tidak berjualan karena taman kuliner dipenuhi abu vulkanik,” terangnya

ant/nad

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…