Sabtu, 20 November 2010 17:11 WIB Boyolali Share :

Seribuan pengungsi Merapi berbondong-bondong kembali ke kampung halaman

Boyolali – Seribuan pengungsi asal Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (20/11), mulai berbondong-bondong pulang ke kampungnya masing-masing setelah radius bahaya Gunung Merapi dipersempit menjadi lima kilometer.

Asisten III Bidang Kesra Setda Boyolali yang juga Koordinator Penanggulangan Bencana Syamsudin, di Boyolali, Sabtu, menjelaskan, jumlah pengungsi yang meninggalkan tempat pengungsian, hingga hari ini, mencapai 1.053 jiwa.

Para pengungsi tersebut, berasal dari Desa Suroteleng, Samiran, dan sebagian Klakah di Kecamatan Selo. Desa itu, di luar radius bahaya letusan Merapi sehingga diizinkan pulang meninggalkan pengungsian ke rumahnya masing-masing.

Menurut dia, sebelum adanya surat resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, jumlah pengungsi di Boyolali, mencapai 5.220 jiwa di beberapa titik pengungsian.

Namun, kata dia, setelah radius bahaya dipersempit dari 10 km menjadi lima km, jumlah pengungsi di Boyolali kini tinggal tersisa sekitar 4.167 jiwa.

Jumlah tersebut, kata dia, di antaranya berasal warga Tlogolele sebanyak 2.055 jiwa, kini masih bertahan di Kecamatan Sawangan, Magelang.

Pengungsi yang masih bertahan di Boyolali kota, kini hanya tersisa sebanyak 2.112 jiwa di antaranya, 680 jiwa menempati di aula Koramil.

“Sebanyak 1.432 pengungsian lainnya menempati di Balaidesa Winong, Dusun Kiringan, dan Kebun Bimo,” katanya.

Kepala Desa Tlogolele, Selo, Budi Harsono, menjelasan, jumlah total warga Tlogolele, sekitar 2.510 jiwa, sedangkan yang masih bertahan di pengungsian 2.055 jiwa di Magelang.

“Warga yang masih bertahan di lokasi bencana di Desa Tlogolele mencapai sekitar 246 jiwa,” kata Budi Harsono.

Sementara hasil data pantauan BPPTK Yogyakarta yang terima oleh Pemkab Boyolali, Sabtu sejak pukul 00.00 WIb hingga 06.00 WIB, menyebutkan, gempa vulkanik terjadi sebanyak tiga kali atau menurun dibanding hari sebelumnya mencapai 13 kali, guguran material Merapi hanya dua kali, dan tremor beruntun.

Syamsudin menambahkan, pemkab setiap hari selalu menerima surat resmi pemberitahuan data hasil pemantauan terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi.

“Data itu, sangat penting untuk menindaklanjut informasi kepada warga khususnya yang bertempat tinggal di lereng Merapi.ant

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…