Sabtu, 20 November 2010 13:40 WIB News Share :

Pencipta ringtone pemicu kerusuhan di Jayapura stres berat

Jayapura–Pencipta lagu “Wamena Ganteng” yang liriknya menghina martabat suku Wamena, dilaporkan mengalami gangguan stres berat. Dia tidak mengira ulahnya itu berbuah kerusuhan.

Nada dering tersebut telah menciptakan konflik horizontal yang berujung dibakarnya 35 rumah, 2 mobil dan 1 motor warga suku Yoka oleh warga suku Wamena. Sementara beberapa warga mengalami luka-luka akibat insiden yang terjadi pada hari Rabu (17/11) lalu.

Hal demikian sebagaimana diakui Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto saat memberikan keterangan dalam acara coffee morning Muspida Papua bersama insan pers di Jayapura, Sabtu (20/11).

Diakui Bekto, saat ini para pembuat dan pengarang lagu sudah ditahan pihak kepolisian, hanya saja untuk memprosesnya diperlukan bantuan ahli jiwa atau psikologi karena para pembuat itu mengalami lagu stres yang luar biasa.

“Pelaku pertama menganggap lagu ini untuk lucu–lucuan, olok–olokan. Tapi dia tidak memikirkan lagu ini akan berakibat begitu besar sehingga pelaku itu langsung stres berat,” akunya.

Ia mengatakan, sebenarnya pelaku pembuat lagu bukan saja berasal dari suku Yoka saja, bahkan ada yang berasal dari Sulawesi dan Maluku. Oleh karena itu, pihak kepolisian tengah mengusut lebih mendalam, apakah ada aktor intelektual dalam pembuatan lagu tersebut.

“Jadi, kita sedang menjajaki apakah ada kemungkinan itu. Tapi kita harap jangan sampai sampai Papua yang merupakan zona damai berubah menjadi pertikaian antar anak bangsa. Maka itu, kami berusaha untuk meredam semua ini agar situasi di Jayapura tidak mengganggu kunjungan presiden,” jelasnya.

Sementara itu, Pangdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Erfi Trianssunu membantah adanya isu bahwa aktor utama pembuatan lagu adalah pihak intelejen BIN. Ia menampik hal itu, karena melihat BIN tak memiliki kepentingan dalam
konflik tersebut.

“Saya lama di BIN, Kopassus dan BAIS dan tahu akan hal itu. Jadi tidak mungkin dilakukan. Tetapi kalau hal itu berkaitan dengan masalah politik dan ekonomi, maka bisa saja. Mungkin karena pengaruh kesenjangan ekonomi sehingga menimbulkan kecemburuan. Tapi itu baru dugaan karena saya tak punya fakta,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama Gubernur Papua Barnabas Suebu mengeluarkan seruan agar semua pihak untuk menahan diri pasca insiden di Kampung Yoka. Gubernur mengaku kecewa, karena isi lagu tersebut benar-benar buruk dan sama sekali tidak bisa dibenarkan, apa pun alasan pembuatannya.

“Ini perbuatan biadab oleh orang yang tidak tahu tatakrama dan sopan santun. Saya mengutuk isi lagu itu! Ini jelas-jelas perbuatan melanggar hukum,” tegas Suebu.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…