Jumat, 19 November 2010 16:36 WIB Klaten Share :

Warga kesulitan mendapatkan air bersih

Klaten (Espos)--Warga lereng Merapi yang sudah kembali ke rumah masing-masing khususnya di Kecamatan Kemalang kini kesulitan mendapatkan air bersih. Pasalnya, tempat penampungan air yang mereka miliki bercampur lumpur dan abu vulkanik sehingga nyaris tak ada persediaan air bersih yang tertinggal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wakil Ketua DPRD Klaten, Darmadi, mengatakan, pihaknya mendapat masukan dari warga yang  mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih. “Bukan saja air yang kotor tapi wadahnya juga. Meskipun kadangkala turun hujan, tapi air yang tercurah bercampur abu vulkanik sehingga dikhawatirkan berbahaya jika dikonsumsi.” jelasnya saat berjumpa dengan wartawan di Gedung Dewan, Jumat (19/11).

Dia menuturkan, warga terpaksa <I>ngangsu<I> dari bawah, yakni dari sumber mata air di Mipitan, Kecamatan Karangnongko. Meski air bisa diperoleh secara cuma-cuma, namun perjalanan yang ditempuh cukup menghabiskan tenaga serta tak bisa membawa air dalam jumlah besar. Sedangkan untuk membeli air bersih juga sulit karena belum ada armada yang berani naik untuk menawarkan air.

Menurutnya, kesulitan air bersih terjadi pada warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III, seperti Desa Sidorejo, Tegalmulyo dan Kendalsari. Ia mengatakan, sebenarnya warga di KRB III belum diperbolehkan meninggalkan tempat pengungsian lantaran status Merapi masih Awas. Namun karena sebagian pengungsi berkehendak kuat untuk pulang, maka tak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Darmadi meminta Pemkab tanggap dengan kesulitan warga dan memasok air bersih ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Selain itu, pihaknya mengimbau jika ada pihak swasta atau masyarakat yang akan memberikan bantuan kepada korban letusan Merapi, alangkah baiknya jika sebagian diwujudkan dalam bentuk suplai air bersih ke rumah warga. “Kebutuhan air bersih ini sangat mendesak,” jelasnya.

rei

lowongan pekerjaan
dr. NORMA AESTHETIC CLINIC, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…