Kamis, 18 November 2010 22:50 WIB Sragen Share :

Pupuk organik bersubsidi tak diminati

Sragen (Espos)--Pupuk organik bersubsidi dari pemerintah yang digulirkan di Kecamatan Plupuh sepi peminat. Para petani lebih tertarik menggunakan pupuk kimia atau menggunakan kotoran ternak milik petani untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Berdasarkan data Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Plupuh, dari total kuota pupuk organik bersubsidi 2010 yang mencapai 516 ton, penyerapan pupuk masih kurang dari 200 ton. Kepala Desa (Kades) Sambirejo, Plupuh, Triyadi mengakui banyak alasan yang dikemukakan petani untuk menolak menggunakan pupuk organik bersubsidi. Salah satunya, anggapan bahwa kesuburan tanaman yang dipupuk dengan pupuk organik cenderung lambat dibanding pupuk kimia.

“Petani kurang sabar karena kesuburan tanaman lambat. Walaupun petani menyadari pupuk organik penting untuk memperbaiki kualitas tanah,” ungkap Triyadi, saat dijumpai Espos, di kantor desa setempat, Kamis (18/11).

Kendati demikian, dia menyebut sejak tiga tahun terakhir pihaknya telah mulai mengkampanyekan pemakaian pupuk organik di kalangan petani. Hal itu diawali dengan memakai pupuk organik khusus di areal pertanian yang merupakan bengkok perangkat desa. Luasan lahan bengkok untuk keperluan itu mencapai hampir 15 hektare (ha). Diharapkan, langkah para perangkat desa tersebut menjadi contoh bagi para petani.

Sementara itu, Kepala BPP Plupuh, Soewardi, saat ditemui secara terpisah mengatakan dari tiga jenis pupuk bersubsidi, pupuk organik memang paling sepi peminat. Pada akhir masa tanam III saja, pupuk organik baru terserap 12,2%. Sedangkan pupuk jenis SP-36 terserap 33,6%, dan pupuk NPK terserap 47%. Jenis pupuk urea dan NPK, diperkirakan akan habis hingga akhir tahun ini atau masa tanam I.

“Untuk pupuk organik, di Plupuh memang kurang laku. Tampaknya di akhir tahun jatah yang diterima masih akan tersisa,” kata dia.

Lebih lanjut, kuota pupuk organik bersubsidi di Plupuh terbilang tinggi. Dari 20 kecamatan di Sragen, Plupuh menerima pupuk organik bersubsidi keempat terbanyak, di bawah Kecamatan Tanon yang mendapatkan 573 ton, Sidoharjo 563 ton, dan Gondang yang menerima 540 ton. Menurut Soewardi, para petani di Plupuh cenderung memilih memakai pupuk organik milik sendiri berupa kotoran ternak. Kebetulan, sebagian besar petani di Plupuh juga berprofesi sebagai peternak.

tsa

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…