Kamis, 18 November 2010 12:44 WIB News Share :

Penduduk Wasior dan Mentawai tak masalah direlokasi

Jakarta–Status tanggap darurat untuk daerah bencana Wasior dan Kepulauan Mentawai sudah dicabut. Saat ini kedua daerah tersebut sudah memasuki tahap relokasi penduduk ke tempat yang lebih aman.

Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menjelaskan, tahap relokasi penduduk di kedua daerah tersebut berjalan dengan lancar. Dia menambahkan, penduduk di kedua daerah tersebut tidak ada yang keberatan saat dipindahkan.

“Di Mentawai relokasi tidak masalah, begitu juga di Wasior. Tapi tetap perlu ada penjelasan dari tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama, kalau relokasi ini demi keselamatan meraka,” ujar Agung di Kantor Kemenko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (18/11).

Agung merasa bersyukur karena proses relokasi ini tidak ada hambatan yang terlalu berarti. Hanya saja, dikatakan politisi Golkar ini, penduduk sedikit mengajukan permintannya kepada pemerintah sebelum mereka direlokasi.

“Mereka bersedia (direlokasi), hanya saja mereka minta nama kampung mereka tidak berubah,” kata Agung.

Agung tidak keberatan dengan permintaan itu. Agung pun mengerti permintaan itu karena warga ingin ciri khas daerah yang didiami dulu tetap hidup.

“Jadi misalnya ada kampung namanya Tanah Abang lalu dipindahkan ke gunung, nah mereka ingin namanya kampung itu tetap Tanah Abang. Jadi rasanya kan tidak pindah,” kata Agung sambil melepaskan tawanya.

Relokasi untuk Mentawai sendiri lanjut Agung sudah dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi tepatnya di kawasan pegunungan. “Sedangkan untuk Wasior, relokasinya tidak terlalu jauh dari kota Wasior yang sekarang. Ya pada intinya keduanya direlokasi ke tempat yang lebih aman,” jelas pria berkacamata ini.

Sebelumnya banjir bandang menerpa Wasior, Papua Barat pada Minggu (4/10). Bencana ini menyebabkan 145 tewas, 179 luka berat, 64 luka ringan, dan 103 orang hilang. Sedangkan di Mentawai , gempa 7,2 SR yang disusul dengan gelombang tsunami yang menyebabkan beberapa desa luluh lantak.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…