Kamis, 18 November 2010 21:15 WIB Boyolali Share :

Alasan belum terima bantuan, warga minta sumbangan ke pengguna jalan

Boyolali (Espos)--Kembalinya para pengungsi ke tempat tinggalnya dalam beberapa hari lalu, kini muncul permasalahan baru. Sejumlah warga mulai meminta sumnbangan ke para pengguna jalan yang tengah melintas.

Seperti yang terlihat di ruas Jalan Selo-Magelang, tepatnya di Dukuh Jarak, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kamis (18/11). Belasan warga, terutama anak-anak dengan menggunakan kardus bekas air mineral, mereka meminta sumbangan sukarela dari para pengguna jalan yang tengah melintas.

Ironisnya, sebagian besar anak-anak dan remaja itu tidak mengenakan masker. Padahal kondisi di jalan tersebut sangat berdebu dan mengganggu aktivitas dan kesehatan.

Aksi meminta sumbangan itu juga dilakukan dengan bergotong royong membersihkan abu vulkanik yang menempel di jalan.

“Sudah beberapa hari ini kami lakukan. Sumbangan itu hanya sukarela. Sebagai rasa membantu warga yang belum memperoleh bantuan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya kepada Espos>, Kamis.

Dijelaskannya, aksi itu dilakukan spontan. Mereka berharap ada dermawan yang memberikan bantuan, terlebih kepada warga yang saat ini sudah kembali dari pengungsian. Diakuinya, bantuan yang diterimanya masih minim. Padahal, tidak ada aktivitas, karena seluruh lahan tertutup abu vulkanik.

Namun, aksi itu disayangkan perangkat desa setempat. Kadus II Desa Jrakah, Selo, Tumari, menilai aksi warga itu tidak patut. Pihak perangkat desa sudah meminta pengurus RT dan RW serta tokoh masyarakat untuk mengingatkan warga agar tidak meminta sumbangan di pinggir jalan terhadap para pengguna jalan yang tengah melintas.

“Tetapi mereka tetap membandel. Bahkan ada anak-anak yang ikut serta. Padahal kami sudah mengingatkan agar tidak menggalang dana seperti itu,” papar dia.

Selain bisa terganggu kesehatannya, jelas Tumari, aksi itu juga sangat berbahaya, karena bisa saja terjadi kecelakaan, akibat pandangan pengguna jalan tidak bisa melihat, akibat terbatasnya pandangan karena abu vulkanik.

Tumari mengatakan pihaknya akan bertindak tegas, jika warga tetap melakukan aksi tersebut. Pihaknya akan meminta Muspika untuk memberikan tindakan tegas kepada warga.

“Kalau memang membandel, kami bisa meminta Muspika untuk mengevakuasi mereka (warga-red) ke Boyolali, karena jelas itu telah mencoreng nama desa. Karena kami tidak menginstruksikan untuk melakukan hal semacam itu,” tandas dia.

Menurut Tumari, selama ini bantuan yang diterima pihak desa langsung diberikan di kantor desa. Kemudian, jelasnya, bantuan didistribusikan secara merata ke seluruh dukuh yang ada di Desa Jrakah. Sehingga, pihaknya sangat menyesalkan tindakan meminta sumbangan secara sukarela ke pengguna jalan.

fid

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…