Rabu, 17 November 2010 04:39 WIB Klaten Share :

“Relokasi jangan malah bikin sengsara warga!”

Klaten (Espos)–Di tengah berhembusnya wacana relokasi bagi warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi, sebagian kalangan justru melontarkan peringatan.

Sebab, relokasi bagi warga yang telah menghuni tanah mereka selama turun temurun itu bukanlah perkara remeh. “Yang perlu diingat,relokasi itu bukanlah sekadar memindah warga. Di sana ada sumberkehidupan, ada tatanan sosial kemasyarakatan, nilai kebudayaan, maupun ikatan batin,” kata Camat Kemalang Klaten, Suradi kepada Espos di kediamannya, Selasa (16/11).

Suradi mengingatkan, wacana relokasi itu harus benar-benar bersumber dari partisipasi warga. Sebab, segala hal terkait kehidupan mereka kelak yang menanggung adalah warga sendiri. “Jangan sampai setelah relokasi, warga justru tak tahu apa yang mesti diperbuat. Sebab, ladang kehidupannya tiada, aktivitas sosial mereka tercerabut. Ini kan malah menambah beban warga,” paparnya.

Secara pribadi, Suradi menilai wacana relokasi bagi warga lereng Merapi sebenarnya terlalu berlebihan. Sebab, jika warga benar-benar direlokasi, hal itu dinilai justru bakal menghilangkan segala kearifan lokal yang tumbuh dan berkembamg di lereng Merapi. “Kalau warganya dipindah, siapa yang menjaga hutan dan menjaga lingkungan. Padahal,lahan subur di sana telah mengangkat kehidupan ekonomi warga Kemalang dengan taraf paling tinggi se-Klaten. Mereka hidup sekaligus yang menjaga lingkungan lereng Merapi,” paparnya.

Dia mengusulkan, sebaiknya relokasi tak serta merta mencabut segala kehidupan dan tatanan sosial warga di sana. Menurutnya, pemerintah bisa menyiapkan hunian yang lebih nyaman dari letusan Merapi. Namun lahan milik warga biarlah tetap menjadi milik warga yang selalu dikelola untuk kelangsungan hidupnya. “Dengan langkah seperti itu, relokasi justru memanusiakan, bukan sebaliknya malah menyengsarakan,”terangnya.

asa

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…