Senin, 15 November 2010 23:08 WIB Sragen Share :

Petani di Plupuh cemaskan hama keong

Sragen (Espos)–Para petani di Kecamatan Plupuh mencemaskan hama keong mas yang belakangan menyerang tanaman padi mereka.

Mereka mengaku khawatir pascaterjadinya genangan hama keong kian ganas menyerang. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mugi Widodo, Desa Gentan Banaran, Sadimin mengungkapkan hama keong menyerang sejak sebagian besar petani yang menggarap lebih dari 200 hektar (ha) lahan pertanian mulai tanam. Keong banyak ditemukan di tepi sawah yang terendam air.

“Keong banyak sekali, memang mengkhawatirkan. Ada petani yang menggunakan obat keong, ada juga yang pakai cara manual, keong diambil dengan tangan. Yang kasihan, ada petani yang sudah terlanjur menebar obat, tapi obatnya hanyut terbawa banjir,” jelas Sadimin, saat ditemui Espos, akhir pekan lalu.

Hama keong mas, jelas dia, dapat menyebabkan tanaman padi mati di usia yang relatif masih muda. Jika tanaman padi diserang, maka petani harus mengganti tanaman dengan tanaman baru. Sehingga, mereka dipastikan harus mengelurkan modal lagi untuk membeli benih siap tanam. Terkait hal tersebut, dia menilai petani membutuhkan bantuan.

Sementara Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Plupuh, Soewardi mengakui hama keong bermunculan. Namun, menurut dia, kondisi tanaman saat ini masih dalam tingkat aman. Hama keong mas yang muncul tidak memberikan dampak terlampau buruk bagi tanaman padi. “Ini jumlahnya sedikit, saya rasa masih bisa diatasi. Tidak sampai menyebabkan masalah besar, seperti saat tahun 2006 atau 2007 lalu,” urai dia.

Lebih jauh, untuk menangani hama keong mas, Soewardi menjelaskan petani dapat memulai dengan cara manual, yaitu mengambil langsung keong yang biasanya berada di tepi areal persawahan. Keong mas, sambungnya, menyukai areal persawahan yang penuh air atau dataran paling rendah dibanding dataran di sekitarnya. Jika hama telah cukup mengganggu, petani bisa menggunakan obat kimia.

tsa

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…