Senin, 15 November 2010 14:16 WIB News Share :

53.000 Warga lereng Merapi direncanakan direlokasi

Semarang–Warga yang hidup pada radius 5 Km dari puncak Merapi direncanakan direlokasi. Jumlah mereka kurang lebih 53.000 jiwa.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menilai relokasi warga yang tinggal di radius 5 km dari puncak lebih penting dibanding mengungsikan warga tiap kali, Merapi meletus. Berdasar pengalaman tahun ini, radius 5 km tak aman untuk ditempati.

Warga yang direncanakan direlokasi berasal dari tiga daerah, yakni Magelang, Klaten, dan Boyolali. Mereka akan ‘diungsikan’ secara permanen pada radius 15 Km dari puncak Merapi.

“Lokasi tepat untuk relokasi masih dicari,” kata Bibit usai rakor Merapi di Gubernuran, Jl. Pahlawan Semarang, Senin (15/11).

Bibit meminta bupati mendata secara rinci warga yang tinggal dalam radius 5 Km dari puncak. Hal itu penting, karena terkait dengan lahan dan dana yang disiapkan.

Sebelumnya telah disepakati, pendataan tak hanya dilakukan oleh unsur pemerintah, tapi juga melibatkan aparat TNI. Dengan demikian diharapkan, proses ini berjalan lebih cepat.

“Kalau jumlah warga sekitar itu (53 ribu), kira-kira ya butuh 10 ribu rumah,” ungkapnya.

Bagaimana soal dana? Bibit menyatakan, hal itu akan dipikirkan kemudian. Menurut dia, yang penting jumlah warga jelas dulu. Selain APBD, pemprov berencana meminta bantuan pemerintah pusat.

Mengenai lahan untuk relokasi, mantan Pangkostrad ini menyiapkan lahan pemerintah. “Bisa juga milik Perhutani. Kami minta bupati setempat mencari dan segera dicek kelayakannya,” ungkapnya.

Rakor Merapi dihadiri bupati Magelang, Klaten, dan Boyolali. Hadir juga, perwakilan BNPB dan unsur pemerintah terkait kebencanaan.

Sebelumnya pendapat berbeda disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief. Menurut Andi, lebih baik dibangunkan tempat pengungsian permanen bagi warga yang tinggal di kawasan rawan.

Konsep pengungsian permanen itu menyerupai balai pertemuan. Hal ini sebagaimana dilakukan terhadap warga korban letusan Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PT. Lemindo Abadi Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…