Minggu, 14 November 2010 13:39 WIB News Share :

Letusan Merapi musnahkan hampir 2000 sapi petani

Jakarta–Data kementerian pertanian (Kementan) per tanggal 14 November 2010 tercatat terdapat 1.962 ekor sapi dan kerbau yang telah teridentifikasi mati akibat letusan Gunung Merapi.

Jika harga satu sapi dihargai sedikitnya  Rp 10 juta per ekor, maka kerugian yang harus ditanggung mencapai kurang lebih Rp 20 miliar

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Prabowo Respatiyo mengatakan ternak yang mati itu mencakup sapi perah, sapi potong dan kerbau. Angka ini mencakup di daerah rawan 20 Km dari puncak Gunung Merapi yaitu di Kabupaten Sleman, Klaten, Magelang dan  Boyolali.

Prabowo menambahkan total ternak yang terancam erupsi Gunung Merapi mencapai 61.884 ekor, namun diantaranya sudah dievakuasi 6.787 ekor. Sementara tercatat sebanyak 243 ekor sapi dan kerbau yang telah dijual sendiri oleh peternak melalui pedagang.

“Saya masih di Posko Merapi Dinas Pertanian Di Yogyakarta,” katanya, Minggu (14/11)

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan harga beli sapi milik korban Merapi bervariasi mulai dari anak sapi yang dihargai Rp 5 juta sampai sapi perah Rp 10 juta. Dana yang dianggarkan pemerintah terkait penggantian sapi para korban Gunung Merapi mencapai Rp 100 Miliar.

Kriteria sapi yang diganti pemerintah yaitu jenis pedhet (anak sapi) diganti Rp 5 juta. Sapi jantan yang potong berdasarkan berat badan diganti Rp 22 ribu per kg. Sapi betina yang tidak laktasi (tidak menghasilkan susu) diganti Rp 20 ribu per kg.

Sapi betina yang sedang produksi susu (laktasi) diganti Rp 10 juta. Sapi dara yang bunting Rp 9 juta dan sapi dara yang tak bunting Rp 7 juta.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…