Minggu, 14 November 2010 12:07 WIB News Share :

Hunian sementara dibangun, turis asing mulai datangi Mentawai

Jakarta–Setelah dilanda bencana gempa dan tsunami, situasi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dilaporkan terus membaik. Hunian sementara bagi warga sudah mulai dibangun dan turis asing sudah kembali berdatangan.

“Sudah mulai pembangunan hunian sementara. Ada 516 unit di Pagai Selatan dan tambahan lain di Pagai Utara 1.000,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar Harmensyah, Minggu (13/11).

Harmensyah juga menjelaskan, situasi para pengungsi kini terus membaik. Kini tersisa 7.830 orang yang masih berada di tenda darurat.

Rencananya, pembangunan hunian sementara dengan luas 18 m2 tersebut akan rampung pada akhir Desember 2010. Saat ini, baru sekitar belasan unit yang sudah selesai dibuat.

Salah seorang warga, Supri Lindra, menambahkan, sekolah darurat juga sudah mulai bermunculan di Mentawai. Sebagian siswa lain, dialihkan ke sekolah-sekolah terdekat yang bangunannya masih utuh. “Mereka sepertinya digabung dulu sementara,” tambahnya.

Di sektor pariwisata, beberapa turis asing juga sudah mulai berdatangan. Untuk diketahui, sejumlah pantai di Mentawai memang jadi tujuan para peselancar karena memiliki ombak yang cukup tinggi dan indah.

“Kemarin saya lihat beberapa orang wisatawan sudah mulai datang ke Sikakap. Termasuk bule-bule, terakhir saya lihat ada dua kapal bule yang datang,” cerita Supri.

Kepulauan Mentawai diguncang gempa dan tsunami pada akhir pertengahan Oktober lalu. Data terakhir dari Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPB) Sumbar, jumlah korban tewas akibat tsunami dan gempa di Kepulauan Mentawai bertambah menjadi 448 orang dan 56 orang masih hilang.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…