Minggu, 14 November 2010 23:16 WIB Sragen Share :

“Pergulatan politik Sragen seperti bangsa tikus”

Sragen (Espos)–Pergulatan politik di Sragen mulai dari tidak akurnya Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Sragen sampai pembentukan koalisi besar rakyat Sragen (KBRS) hingga akhirnya hanya sebagai wadah komunikasi partai politik (Parpol) dianalogikan seperti bangsa tikus.

Saat sejumlah tikus intelektual berwacana untuk mengantisipasi serangan bangsa kucing, muncul seekor tikus yang memiliki ide cermelang. Ide tersebut berupa memberikan kalung kepada kucing agar kedatangannya diketahui bangsa tikus. Namun akhirnya tidak seekor tikus pun yang berani mengalungkan kerincing itu kepada kucing, hingga akhirnya perkumpulan tikus itu bubar.

Analogi perulatan bangsa tikus itu disampaikan anggota Dewan Pengurus Tingkat Daerah (DPTD) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jateng, Anggoro Sutrisno dalam pidato pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Ke-2 PKS Sragen di Gedung Korpri, Sabtu (13/11) malam.

Hadir dalam kesempatan itu Bupati Sragen Untung Wiyono,  Ketua Dewan Pimpinan Cavang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sragen Bambang Samekto, Ketua DPC Partai Demokrat Sragen Joko Saptono dan sejumlah fungsionaris PKS.

Analogi Anggoro Sutrisno itu memberikan gambaran sikap politik PKS terhadap munculnya gerakan politik menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Menurut dia, PKS berupaya untuk berkomunikasi secara setara dengan partai lain tanpa membedakan partai besar atau partai kecil.
“Kalau semua masih termasuk tikus, ya mengakulah sebagai tikus. Jangan mentang-mentang tikus besar kemudian menamakan diri sebagai kucing atau bahkan anjing,” ujar Anggoro dengan bahasa kiasan.

Terpisah, Bupati Sragen Untung Wiyono lebih normatif dalam sambutannya. Dia hanya menitipkan dua lembaga yang dirintisnya selama memegang tambuk pemerintahan Sragen. Dua lembaga itu berupa lembaga pendidikan dan pelatihan ketrampilan Sragen Technopark dan Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) Gemolong, Sragen.

“Melalui dua lembaga ini, saya berharap Sragen bisa maju dan mampu mewarnai nasional. Saya ingin rakyat Sragen memiliki jiwa wirausaha. Semua warga Sragen bisa jadi pedagang semua, sehingga benar-benar mampu untuk mandiri. Penjajah dulu mendidik kita menjadi amtenar. Namun pola itu diubah, bahwa orang Sragen harus menjadi tionghoanya orang Jawa,” imbuhnya.

trh

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…