Sabtu, 13 November 2010 13:28 WIB News Share :

Aparat desa jemput pengungsi pulang

Kulonprogo--Meski intensitas erupsi Gunung Merapi masih tinggi, sejumlah aparat desa di Kabupaten Magelang, Jateng, menjemput warganya yang mengungsi di Desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo, DIY, untuk kembali ke desanya.

“Para pengungsi dijemput aparat desa karena kondisi desanya dinilai sudah aman dari erupsi Gunung Merapi,” kata Kepala Kantor Kesbanglinmas Kulonprogo Riyadi Sunarto, di Wates, Sabtu (13/11).

Mereka yang dijemput merupakan pengungsi dari Desa Blongkeng dan Nguwur, Kabupaten Magelang.

Menurut Sunarto, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo prinsipnya masih bersedia menampung para pengungsi dari Kabupaten Magelang namun karena dijemput aparat desa, maka para pengungsi meninggalkan barak pengungsian yang tersebar di Desa Banjarharjo.

Pemerintah desa sudah menemui kami dan pengungsi mulai meninggalkan barak pengungsian. Warga Desa Blongkeng dan Nguwar akan diangkut untuk kembali ke kampung mereka yang jarakanya 20 km.

“Pemerintah desa menjamin kondisi di desa mereka aman untuk di tempati. Kami menerima alasan tersebut dan memberi izin pengungsi meninggalkan barak pengungsian,” lanjutnya.

Ia menuturkan pengungsi dari Desa Srumbung dan desa lain yang jaraknya kurang dari radius 20 km belum diizinkan meninggalkan barak pengungsian karena status awan Merapi belum diturunkan.

“Untuk pengungsi yang masih dalam kawasan bahaya tidak kami izinkan meninggalkan pengungsian sebelum ada pernyataan aman dari pemerintah,” imbuhnya.

Kepada Desa Banjarharjo Suwarto mengemukakan bahwa jumlah pengungsi di Desa Banjarharjo tersisa 100 orang, karena yang lain sudah pulang sejak Minggu (12/11).

“Sudah sejak kemarin, 1.300 pengungsi di Desa Banjarharjo telah pulang dan sisanya kemungkinan akan pulang hari ini,” imbuhnya.

Camat Kalibawang Rohedy Goenoeng menyampaikan sebagian besar pengungsi telah kembali ke rumahnya dan tinggal sedikit yang bertahan.

Para pengungsi yang masih bertahan kebanyakan pengungsi dari daerah yang mengalami kerusakan cukup parah seperti di Srumbung.

“Mereka yang memutuskan pulang tidak bisa dicegah karena sudah keinginan sendiri, sedangkan yang dari daerah kerusakannya cukup parah memang perlu bertahan lebih lama karena tempat tinggal mereka belum bisa ditinggali,” jelasnya.

ant/nad

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…