Sabtu, 13 November 2010 16:53 WIB News Share :

Anak-Anak pengungsi Merapi di Prambanan kekurangan peralatan belajar

Ratusan anak-anak pengungsi korban letusan Gunung Merapi di Prambanan terpaksa belajar dengan peralatan seadanya. Mereka kekurangan berbagai fasilitas belajar, mulai dari baju seragam, kursi, meja, dan papan tulis.

“Sebagian pengungsi tidak membawa peralatan belajar apapun. Bantuan seragam dan alat tulis belum mencukupi dan merata. Tas yang digunakan hanya tas plastik hitam, buku tulis dua buah, pensil dan pulpen masing-masing satu buah. Mereka ada yang belum berseragam dan bersandal jepit,” kata petugas informasi Dinas Pendidikan Kecamatan Prambanan, Mularsih, Sabtu (13/11).

Mularsih menambahkan, anak-anak diperbolehkan belajar di sekolah yang paling dekat dengan tempat pengungsian. Untuk kelas, menyesuaikan dengan kelas ketika mereka bersekolah sebelumnya.

“Kita serahkan kepada orangtua masing-masing, mau disekolahkan di mana. Untuk tenaga pengajar masih mengandalkan guru dari sekolah yang bersangkutan,” ujar Mularsih.

Sementara itu, ratusan anak-anak lainnya terpaksa belajar di tenda-tenda darurat lainnya di tenda-tenda darurat. Di tempat itu, mereka juga menggunakan peralatan seadanya.

“Anak-anak pengungsi ini harus tetap belajar, tidak boleh terhenti belajar meski harus belajar di tenda darurat atau dititipkan di sekolah-sekolah terdekat,” kata Soegiono,  koordinator posko pengungsian di Balai Desa Kokosan Kecamatan Prambanan, Klaten, Sabtu (13/11).

Menurut dia, untuk anak-anak siswa SD sesuai kelasnya akan bergabung datu mengikuti pelajaran di SDN Kokosan yang terletak sekitar 100 meter dari balai desa. Sedangkan anak-anak TK dan PAUD pelajarannya bisa dilakukan di tenda atau gedung TK terdekat.

“Setelah kita data ada sebanyak 50-an anak SD yang ada di barak ini, sedang kelas di SDN di Desa Kokosan masih bisa menampung seusai kelas masing-masing,” kata Sugiono.

Di wilayah Prambanan sedikitnya terdapat 19 titik pengungsian. Sebagian besar ditempati pengungsi dari daerah Cangkringan dan Ngemplak Sleman, Balerante, Kemalang dan Kepurun Manisrenggo, Klaten. Di antara pengungsi terdapat 1.947 anak usia sekolah, yang terdiri dari 196 usia TK, 898 siswa SD, 498 siswa SMP, 351 siswa SMA dan 4 siswa SMK.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…