Sabtu, 13 November 2010 21:43 WIB Wonogiri Share :

179 Panggang ayam & tumpeng hasil bumi dan sayuran diarak

Masyarakat sekitar obyek wisata air terjun Girimanik, Setren, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri tumplek blek di pintu masuk kawasan perhutani, Sabtu (13/11). Warga memadati pelataran pintu masuk untuk melihat berbagai atraksi guna memeriahkan “Upacara Tradisi Susuk Wangan” yang digelar setiap tahun menjelang bulan Sura atau Muharram.

Walau sinar matahari menyilaukan mata, namun warga yang berdesak-desakan tidak berasa jenuh ataupun letih. Hal itu dikarenakan udara di lokasi wisata Girimanik yang sejuk dan dingin. Sementara di sisi timur, berdiri kajang dengan deretan kursi yang dipenuhi oleh pejabat Pemkab Wonogiri, anggota DPRD Wonogiri, Muspika Slogohimo maupun tokoh masyarakat di Kecamatan Slogohimo.

Ribuan warga berdiri dan berjajar di sepanjang jalan yang berjarak sekirar 200 meter. Di jalan menurun, sekitar pukul 11.18 WIB berdiri ratusan warga Desa Setren, petani maupun kelompok kesenian. Mereka membawa tumpeng yang terbuat dari aneka hasil bumi dan sayuran, seperti kol, terong, kacang panjang dan sebagainya. Di belakang barisan itu para petani membawa cangkul dan diikuti 179-an wanita pembawa ayam panggang berikut nasi.

Tumpeng dan ayam panggang itu, sengaja dibawa oleh warga dan petani di wilayah Setren untuk disedekahkan kepada masyarakat sebagai simbol ucapan terima kasih atas kerelaan bumi pertiwi memberikan hasil pertanian.

Kepala Desa Setren, Slogohimo, Wonogiri, Sri Purwanti kepada Espos sebelum menyerahkan tumpeng berikut ayam panggang untuk dibagi-bagikan kepada pengunjung, menyatakan ke-179 ayam panggang itu berasal dari 118 buah dari warga Desa Setren, 50 ayam panggang dari warga luar Setren, 5 ayam panggang dari PDAM dan 6 buah ayam panggang dari dirinya.

“Pengiriman ayam panggang sebagai ungkapan rasa syukur dan mudah-mudahan panen hasil bumi semakin meningkat di tahun depan,” ujarnya.

Kemeriahan pelaksanaan upacara Susuk Wangan bertambah saat 13 warga dengan mengendarai gledegan melaju dari kawasan Perhutani menuruni jalanan. “Ada 13 gledegen yang mengikuti festival ini. Setiap gledegan dihias sendiri oleh peserta.”

Bupati Wonogiri, H Danar Rahmanto berharap masyarakat sekitar hutan tidak menggunduli hutan. “Wargo ampun remen negori kajeng, kajeng alas mboten angsal digunduli. Gundul namung angsal kangge tim sukses (warga jangan senang menebang kayu, kayu hutan tidak boleh digunduli, yang boleh gundul hanya anggota tim sukses),” ujarnya.

tus

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…