Jumat, 12 November 2010 05:47 WIB Klaten Share :

Untuk urusan ternak dan suami istri, mereka pun menyerah...

Oleh: Aries Susanto

Pasukan baret merah itu menenteng secarik kertas putih. Ia berjaga di tepi jalan di lereng Merapi yang sepi. Dibolak-baliklah kertas itu.

Namun, semuanya telah terisi coretan nama-nama, lengkap dengan alamatnya.

“Sudah penuh. Saking banyaknya warga yang harus dicatat,” kata David, salah satu prajurit Grup-2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura Surakarta.

Kamis (11/11) siang itu, jalur utama ke lereng Merapi di Kecamatan Kemalang Klaten sungguh terasa lengang. Di beberapa ruas jalan, nampak petugas kepolisian dan prajurit berseragam doreng berjaga penuh siaga.

David bersama delapan rekannya menerima tugas berjaga di Tegalsuko, sebuah dusun di Desa Kemalang yang berjarak 15 kilometer dari puncak Merapi.

Sebagai seorang prajurit TNI, tugas itu barangkali tak terlalu mengagetkan. Sebab, menjaga keamanan telah menjadi irama hidupnya sehari-hari.

“Tugas kami kan memang seperti ini. Mengamankan wilayah dan warga dari berbagai ancaman,” lanjutnya.

Namun, tugas David dan rekan-rekannya kala itu memang tak sekadar berjaga penuh wibawa. Melainkan, juga mencatat setiap warga yang nekat naik ke lereng Merapi. Ini barangkali memang sebuah pilihan sulit sekaligus mencemaskan.

Sebab, ketika Merapi masih diselimuti misteri, rupanya tak sedikit warga yang nekat kembali ke rumahnya. Di sinilah, para prajurit TNI itu mengalami dilema yang berkepanjangan.

Sebab, setiap warga yang izin mau naik ke atas selalu menyodorkan sederet alasan yang mendesak, seperti memberi makan ternak. Bahkan, tak jarang pula warga menyodorkan alasan yang sungguh teramat manusiawi, yakni untuk menuntaskan urusan biologis suami istri.

“Lha bebojoan, masak istri nggak diajak ke atas!” sahut rekannya, Agus sambil menahan tawa ketika menirukan alasan warga yang mau kembali ke rumahnya.

Merapi kini memang menjadi sesuatu yang mencemaskan. Namun, di sela-sela waktu yang tak menentu itu, Merapi rupanya juga berbagi kisah menarik dan mendebarkan seputar warga yang hendak pulang dengan berjuta alasannya.

Inilah yang barangkali membuat pasukan terdidik TNI itu terpaksa “angkat tangan.” Mereka sadar, ternak adalah harta termahal yang menjadi penyangga kehidupan warga, betapa pun Merapi kini masih bergolak.

Mereka juga sadar bahwa urusan biologis suami istri adalah sesuatu yang amat manusiawi dan terlalu berisiko untuk ditunda.

“Gimana ya, itu kan sunah. Masak mau kami melarang,” ucap David.

Beruntung, David dan rekan-rekannya yang memberi nasihat akan bahaya Merapi kala itu masih dipatuhi warga lereng Merapi. Tak jarang warga yang telah naik ke atas rupanya selalu kembali ke bawah dalam hitungan menit.

“Ingat, jangan lama-lama di atas ya. Selesai urusan, lekas kembali!” pesan Agus kepada sepasang warga yang akan naik ke atas.

“Siap, Pak!” sahut warga itu penuh kemenangan. Seketika, mereka pun menarik gas sepeda motornya kencang-kencang meluncur ke atas menuntaskan urusannya.

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…