Jumat, 12 November 2010 02:50 WIB Klaten Share :

Rasanya enteng setelah potong rambut

Raut muka Wartini, 25, warga Dukuh Nadri, Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Klaten tampak sumringah setelah rambutnya yang semula sepinggang dipotong hingga sebatas bahu. Ibu satu anak itu tak henti mengibas-ngibaskan rambutnya sembari menikmati semilir angin yang berhembus di kawasan Pendapa Sekretariat Daerah (Setda) Klaten.

Siang itu, Kamis (11/11), Wartini berkesempatan menikmati pelayanan dari sejumlah kapster yang tergabung dalam Persatuan Ahli Kecantikan Indonesia (PAKI) Kabupaten Kendal. Dia yang sebelumnya hampir tidak pernah pergi ke salon merasa bungah dengan kedatangan para penata rambut yang sukarela memotong rambut para pengungsi. “Rasanya kepala enteng karena sekarang rambutnya pendek,” jelasnya kepada Espos.

Dia menambahkan, selama lebih dari sepekan mengungsi membuatnya tak memikirkan penampilan. Sebab, sarana di tempat pengungsian terbatas dan harus berbagi dengan banyak orang. Selain itu, barang-barang pribadi yang dibawanya pun sangat minim lantaran terburu-buru saat akan mengungsi. Menurutnya, aksi potong rambut gratis itu sangat bermanfaat bagi dirinya yang sudah merasa sumpek lantaran harus tinggal di pengungsian.

Karena sifatnya darurat, salon dadakan itu pun dibikin sederhana menggunakan kursi yang ditaruh berjejer di samping pendapa. Tak ada cermin berukuran besar seperti yang biasa ada di salon-salon. Meski demikian, para kapster tetap bekerja lincah memangkas rambut para pengungsi dan menghasilkan aneka ragam kreasi potongan rambut.

Ristianto, 12, bocah pengungsi asal Munggur, Desa Tlogowatu, Kemalang, Klaten menuturkan, rambutnya sudah gondrong karena sekian lama tak dipotong. “Kupingnya sudah ketutupan rambut sehingga rasanya risih dan geli,” jelasnya. Meskipun harus mengantre cukup lama bersama rekan-rekannya, dia mengaku senang bisa terbebas dari rambut gondrong.

Sekretaris PAKI Kendal, Saadatul Abadiyah, mengatakan, kegiatan itu diikuti 10 penata rias di Kendal. Menurutnya, perjalanan jauh ditempuh sejak pagi hari tak masalah, lantaran pihaknya ingin berbagi dengan para pengungsi Merapi,“Karena keterampilan yang kami miliki memotong rambut ya itu yang kami berikan ke pengungsi. Semoga bermanfaat,” jelasnya.

Menurutnya, aksi potong rambut gratis hanya digelar sehari. Meski demikian, pihaknya tak membatasi berapa banyak pengungsi yang ingin dipotong rambutnya. “Kami menyesuaikan minat pengungsi sampai selesai,” jelasnya. Dia menambahkan, bantuan berupa pakaian dalam serta perlengkapan lainnya juga diberikan kepada para pengungi.

rei

lowongan pekerjaan
PT.MITRA PINASTHIKA MUSTIKA FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…