Kamis, 11 November 2010 01:32 WIB Klaten Share :

Ketika mantan PSK jadi relawan Merapi...

Oleh: Aries Susanto

Cemara bukanlah nama sebenarnya. Ia seorang bekas pekerja seks komersial (PSK) di salah satu kawasan Silir di Kota Bengawan.

Setelah bergabung dengan jemaah pengajian Ar Ridho Semanggi Solo, ia pun menemukan jalan yang terang.

“Dan kali ini, mereka (Cemara dan kawan-kawannya-red) akan membantu saudara-saudaranya di Klaten yang mengungsi ini,” kata Sarjoko, koordinator jemaah Ar Ridho saat berbincang dengan Espos di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (10/11).

Cemara datang tak sendirian. Melainkan bersama 20-an perempuan lainnya yang dahulunya juga sama-sama satu profesi sebagai kupu-kupu malam di Kota Bengawan.

Mereka datang ke Klaten dengan wajah berseri. Tak ada kepentingan pribadi yang tersembunyi, selain hanya untuk menghibur hati saudaranya yang lara.

“Kami benar-benar terpanggil untuk meringankan beban saudara di sini, meski kami bukan orang kaya,” lanjut Sarjoko sambil menyeka keringatnya yang bercucuran tersengat mentari.

Perjalanan para bekas PSK Silir menuju Klaten memang penuh perjuangan. Bukan saja pemberangkatan mereka yang harus naik pikap terbuka dan mobil sewa.

Namun, juga perjuangannya dalam menghimpun bantuan dari berbagai kalangan juga layak dijunjung tinggi.

“Tadi sempat istirahat di tengah jalan untuk sembahyang dan makan, jadi agak telat,” terangnya.

Pukul 13.30 WIB para eks PSK Silir itu tiba dengan kaos seragam. Mereka datang dengan segudang harapan dan tugas kemanusiaan. Para relawan PMI yang menyambut mereka pun sempat dibikin kalang kabut.

Sebab, para eks PSK itu rupanya membawa berkarung-karung bantuan yang diangkut mobil bak terbuka. Mulai pakaian baru sebanyak seribu pasang, pakaian layak pantas seribu pasang, Sembako seribu paket, sandal jepit seribu pasang, obat-obatan, hingga minyak telon lebih dari seribu botol.

“Kami tadi membawa minyak telon dua drum. Lalu kami bagi di botol-botol kecil. Semuanya serba seribu pasang,” ucapnya.

Setiap tenaga, bagi relawan mantan PSK Silir itu, barangkali adalah ibadah. Itulah sebabnya, mereka tak mau berpangku tangan meski tenaga utamanya sebagai juru masak kala itu tak terpakai lantaran minimnya peralatan dapur.

Dengan kedua tangan dan segenap hatinya, mereka pun bergegas membagi-bagikan minyak telon kepada para pengungsi layaknya para penjaja makan di terminal bus. Mereka lakukan itu semua tanpa komando, tanpa ada yang menyuruh, juga tanpa pamrih tersembuyi.

“Kami hanya terketuk dan kasihan melihat bayi-bayi kecil di lantai berdesakan dengan yang lainnya. Semoga minyak telon itu bisa mengangatkan tubuh bayi,” ujar bekas PSK lainnya, Mawar (nama samaran-red).

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…