Rabu, 10 November 2010 18:20 WIB News Share :

270 Pengungsi di Maguwoharjo mengalami gangguan psikologis

Sleman–Berada di pengungsian dengan beban pikiran soal tempat tinggal merupakan kenyataan pahit yang harus dialami para pengungsi bencana Merapi.

Tak heran jika banyak di antara mereka yang mengalami gangguan, seperti misalnya gangguan psikologis.

Berdasarkan data yang dihimpun dari bagian psikolog Posko kesehatan Pemkab Sleman di pengungsian Maguwoharjo per Selasa (9/11) kemarin, total pengungsi yang tercatat mengidap gangguan psikologis berjumlah 270 orang.

Jumlah sebanyak itu terdiri dari gangguan kecemasan sebanyak 92 orang, psikosomatis 77 orang, depresi 41, psikosisresidual 38, insomnia 38 orang dan post traumatic stress disorder (PTSD) 21 orang.

Menurut koordinator bagian psikolog di posko Maguwoharjo, Retno Kumolohadi, dari gejala-gejala tersebut, yang perlu diwaspadai adalah psikosisresidual. Pasalnya, gangguan tersebut sampai menyebabkan seseorang terlepas dari dunia sosial dan juga halusinasi.

“Kalau kami anggap cukup parah ya kami rujuk ke rumah sakit jiwa. Sejauh ini sudah ada tiga orang pengungsi yang kami rujuk ke sana,” tandas Retno di Stadion Maguwoharjo, Rabu (10/11) sore.

Retno, yang juga pengajar di Pasca Sarjana Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) ini, mengatakan potensi meningkatnya jumlah pengungsi yang terkena gangguan psikologis cukup terbuka. Apalagi sampai saat ini belum ada kabar pasti mengenai kapan mereka bisa kembali ke kampung halamannya.

“Selain merasa asing dengan lingkungan pengungsian. Mereka juga terbebani dengan kondisi ternak dan rumah mereka,” ujarnya.

Namun Retno juga mengakui bahwa proses konsultasi psikologis dengan pengungsi berjalan sangat lancar. Hampir seluruh dari mereka bersedia blak-blakan.

“Mungkin karena mereka terbebani dan butuh curhat. Begitu kita tanya sekali saja langsung brol, mengalir semua jawaban dia,” ucapnya.

dtc/nad

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…