Selasa, 9 November 2010 11:24 WIB Issue Share :

'Silet' dihentikan karena ganggu psikologis pengungsi

Jakarta–Komisi Penyiaran Indonesia menghentikan sementara program infotainmen ‘Silet’ di  RCTI mulai hari ini Selasa (9/11), karena dinilai membuat warga sekitar Merapi panik dan terganggu secara psikologis.

“Akibat sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi yang menayangkan informasi yang ada tayangan ‘Silet’, kita mendapatkan kabar di Nanggulan (sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) tim relawan dan SAR harus mengurus secara swadaya 550 orang pengungsi yang terganggu akibat tayangan di media Silet. Padahal daerah Nanggulan itu jauh dari Merapi,” ungkap ketua KPI Pusat, Dadang Rahmat Hidayat saat jumpa pers di Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Gedung Bapeten Jl Gajah Mada 8, Jakarta Pusat, Senin (8/11).

Dadang menambahkan, “Begitu besar pengaruh yang diakibatkan oleh media terutama media elektronik. Makanya diharapkan media bisa memperhatikan akurasi media dan bisa membantu menyelesaikan masalah.”

Akibat pemberitaan itu ‘Silet’ mendapat sanksi dari KPI dan mulai Selasa (9/11) tayangan ‘Silet’ dihentikan untuk sementara waktu, sampai pemerintah mencabut status Siaga Merapi.

Namun KPI tetap menghargai iktikad baik dan permintaan maaf yang disampaikan ‘Silet’ lewat running text RCTI.

“Permintaan maaf itu kita hargai, tapi itu bisa jadi pertimbangan. Tapi tetap mereka memberikan informasi yang sifatnya tidak benar yang memberikan dampak psikologis kepada korban,” tukasnya.

inilah/rif

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…