Senin, 8 November 2010 12:55 WIB News Share :

Ternak pengungsi, pemerintah hargai sapi perah Rp 10 juta

Yogyakarta – Pemerintah telah menjanjikan dana Rp 100 miliar untuk membeli sapi milik peternak yang menjadi korban letusan Gunung Merapi. Harga sapi pun bervariasi mulai dari anak sapi yang dihargai Rp 5 juta sampai sapi perah Rp 10 juta.

“Kita pastikan bahwa kalau mereka mau melepas ternaknya, maka pemerintah akan mengganti,” kata Menteri Pertanian Suswono, saat ditemui di Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B), Jl Kenari 14A, Yogyakarta, Senin (8/11)

Kriteria sapi yang diganti pemerintah yakni, jenis pedhet (anak sapi) diganti Rp 5 juta. Sapi jantan yang potong berdasarkan berat badan diganti Rp 22 ribu/kg. Sapi betina yang tidak laktasi (tidak menghasilkan susu) diganti Rp 20 ribu/kg. Sapi yang sedang produksi susu (laktasi) diganti Rp 10 juta. Sapi betina bunting Rp 9 juta dan sapi betina tidak bunting Rp 7 juta.

Suswono menambahkan, ada hal yang lebih penting dari sekadar membeli sapi
milik peternak, yakni soal kepastian pakan ternak. Para peternak banyak
mengkawatirkan nasib sapi mereka yang ditinggal mengungsi.

“Dari hasil pengamatan lapangan selama ini, ternyata yang diinginkan banyak
peternak adalah kepastian pakan ternak. Mengapa mereka ke atas (ke daerah
bahaya), itu karena mereka ingin memberi makan ternak untuk memastikan ternaknya sehat,” tambahnya.

Setelah dibeli, sapi milik korban Merapi tersebut rencananya akan disalurkan ke daerah lain yang aman dari bahaya. Namun Suswono menyerahkan rincian kebijakan tersebut kepada Pemerintah Daerah.

“Sapi yang dibeli pemerintah untuk bantuan sosial (bansos), kita akan salurkan untuk peternak-peternak di luar daerah berbahaya. Nanti dinas provinsi yang akan mengatur. Bansosnya kemana, itu adalah kewenangan provinsi, baik DIY atau Jateng,” ujar Suswono.

Kandang Bersama

Sementara untuk rencana ke depan, pemerintah berencana untuk membangun sebuah kandang bersama untuk menampung sapi-sapi milik peternak yang tinggal di kawasan rawan bahaya letusan Merapi.

“Kita rencanakan sebuah lokasi khusus untuk peternakan, semacam kandang bersama. Selama ini kan satu rumah satu kandang. Nanti lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal peternak, masih satu kawasan,” kata Suswono.

“Dengan begitu, kalau suatu saat harus dievakuasi kan mudah. Untuk pengelolaan dan perawatannya, bisa bergiliran dengan sistem piket. Selain itu, kita juga akan berikan pembelajaran tentang pakan ternak. Selama ini peternak hanya mengandalkan rumput. Ke depannya, kita coba jerami,” imbuhnya.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…