Senin, 8 November 2010 07:52 WIB News Share :

Tekanan gas Merapi timbulkan gemuruh

Jakarta–Beberapa warga Yogyakarta dan sekitarnya mengeluhkan adanya gemuruh di Gunung Merapi. Bahkan ada warga yang melihat petir. Gemuruh itu disebabkan tekanan gas Merapi. Petir karena ada loncatan listrik statis.

“Suara gemuruh Merapi sampai kota Purworejo yang berjarak kurang lebih 62 km dari Yogyakarta. Terlihat kilatan petir dari arah selatan dan timur kota  Purworejo,” ujar Adi, melalui fasilitas Info Anda, Minggu (7/11) malam.

Gemuruh Gunung Merapi juga dikhawatirkan beberapa warga, seperti Nugroho Widyantoro yang tinggal di Surobayan, Jatianom, Klaten, Jawa Tengah.

“Malam ini pukul 00.00 WIB saya terbangun dan mendengar gemuruh Merapi. Suara Merapi terdengar lebih keras dari biasanya, semakin malam serasa semakin mencekam saja. Jarak rumah saya ke puncak Merapi sekitar 25 km,” tulis Nugroho di Info Anda.

Keluhan serupa dikeluarkan Triyono (warga Karanganom, Mudal), Arief KHS (warga Klaten), dan Aries yang juga warga Klaten.

Menurut Kepala Badan Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo, gemuruh dan petir itu merupakan fenomena alam yang menyertai erupsi gunung berapi.

“Tekanan dalam magma masih sangat besar, terutama gasnya yang sangat kuat timbulkan suara gemuruh,” ujar Subandriyo ketika dikonfirmasi, Senin (8/11).

Sedangkan fenomena petir, karena ada lompatan api yang bisa menimbulkan listrik statis yang menghasilkan petir. “Iya karena itu terjadi hembusan kolom asap hampir sepanjang hari tanpa henti biasanya memang timbul petir karena elektrostatik, setiap gunung meletus timbul loncatan api,” tuturnya menjelaskan asal usul petir.

Dia mengimbau agar masyarakat tak gampang panik dan termakan isu. “Khususnya untuk masyarakat sekitar Merapi jangan terpancing dengan isu letusan sampai 60 km, ada gas beracun dan sebagainya, sampai sekarang nggak terbukti,” pesan dia.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…