Senin, 8 November 2010 03:36 WIB Klaten Share :

Lokomotif hingga refleksi gigitan ikan hibur pengungsi di PG Gondang

Sambil membopong bayinya, Wiji Lestari, 36, terlihat ketakutan. Di hadapan warga Dukuh Jetis, Desa Kepurun, Manisrenggo ini membentang titian jembatan layang sepanjang sekitar 30 meter dengan lebar 70 cm. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Wiji meniti jembatan yang menjadi wahana baru di arena bermain Green Park kompleks Pabrik Gula (PG) Gondang Baru, Klaten ini. Sesekali jembatan kecil itu bergoyang-goyang hingga membuat nyali salah seorang pengungsi letusan Gunung Merapi itu sempat menciut. Namun, berkat dorongan dan semangat suaminya, Andi Kriswanto, 35, dari belakang, Wiji berhasil melintasi jembatan itu dengan selamat. “Rasanya puas klo sudah sampai di ujung jembatan,” urai Wiji Lestari saar berbincang dengan Espos di lokasi.

Kepuasan hati Wiji Lestari belum cukup untuk membayar semua penderitaan akibat letusan Gunung Merapi. Namun, kehadiran hibuan secara gratis itu mampu sedikit mengobati kejenuhannya selama tinggal di barak pengungsian. Managemen PG Gondang Baru sengaja memberikan layanan hiburan gratis kepada para pengungsi letusan Gunung Merapi. Selain jembatan gantung, beberapa wahana yang ditawarkan dalam Green Park itu antara lain flying fox, melintasi labirin, kolam renang, dan menikmati pijat refleksi gigitan ikan. Siang itu, cukup banyak para pengungsi yang tertarik mencoba menikmati pijat refleksi gigitan ikan. “Tadinya sempat takut dengan gigitan ikan itu. Namun, setelah mencoba malah ketagihan,” papar Ny Sarmi, 50, seorang pengungsi asal Ngemplak Seneng, Manisrenggo.

Sebelum memasuki arena bermain di Green Park, para pengungsi diajak menikmati nuasa mengendarai lokomotif kuno mengelilingi kompleks pabrik gula peninggalan zaman penjajah Belanda ini. Di kompleks pabrik gula tertua di Pulau Jawa itu, para pengungsi diajak menikmati nuansa klasik seperti bangunan rumah dinas mantan administratur PG Gondang, Museum Gula, mesin kuno penggiling gula, serta sejumlah perabot kuno lainnya. “Saya baru pertama menyaksikan ini. Tenyata nuansanya cukup indah,” urai Dedi Irawan, 25, pengungsi asal Desa Kecemen, Manisrenggo.

Staf SDM, PG Gondang Baru, Jauhari mengatakan, aneka hiburan itu sengaja dihadirkan untuk mengusir kejenuhan korban letusan Merapi selama berada di lokasi pengungsian. “Di sini (PG Gondang Baru-red) dihuni sekitar 1.000 pengungsi. Pikiran mereka masih kalut oleh dampak keganasan Gunung Merapi. Kalau dibiarkan mengendap, pikiran mereka bisa tertekan,” tutur Jauhari.

mkd

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…