(Foto: Budi Sugiharto/detikcom) (Foto: Budi Sugiharto/detikcom)
Senin, 8 November 2010 08:30 WIB News Share :

Berita dinilai meresahkan, 'Silet' minta maaf

(Foto: Budi Sugiharto/detikcom)

(Foto: Budi Sugiharto/detikcom)

Jakarta–Redaksi infotainment Silet yang tayang di RCTI meminta maaf atas pemberitaan edisi Minggu (7/11) yang dinilai meresahkan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Permintaan maaf Silet ini ditayangkan beberapa detik setiap beberapa menit.

Pantauan, permintaan maaf itu mulai ditayangkan di layar RCTI pada Minggu (7/11) malam. Permintaan maaf itu dengan latar belakang hitam dengan tulisan putih, dengan logo Silet di pojok kanan bawah.

Bunyi tulisan itu, “Segenap tim redaksi Silet memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas pemberitaan Silet edisi Minggu 7 November 2010 yang memuat ramalan dan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tentang prediksi Merapi. Simpati dan doa kami untuk seluruh korban bencana.”

Selain melalui tayangan beberapa detik itu, permintaan maaf juga disampaikan melalui teks berjalan (running text).

Tayangan Silet edisi Minggu banyak menunai kritik di berbagai media, termasuk Twitter, karena meresahkan dan membuat takut pengungsi. Dalam tayangan itu disebutkan radius awan panas Merapi mencapai 65 km dan akan ada ledakan besar. Ada juga pernyataan bahwa Yogya adalah kota malapetaka.

Sebelumnya, banyak warga yang mengeluhkan pemberitaan stasiun televisi tentang bencana Gunung Merapi yang dinilai terlalu berlebihan. Keluhan ini diterima Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik melalui email dan berbagai jaringan sosial media lainnya.

Merespons keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana yang dinilai berlebihan di stasiun televisi. KPI akan mengundang para pemimpin redaksi stasiun TV pada Senin (8/11) ini untuk membahas pemberitaan bencana itu.

“Pasti (direspons). Itu sangat luar biasa, kejadian ini tidak biasa,” ujar Ketua KPI Dadang Rahmat, Minggu (7/11) tentang adanya keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana di stasiun TV.

Mengenai surat terbuka jaringan relawan Yogyakarta, Dadang mengatakan belum menerima surat itu, namun mengetahui informasinya. Dia juga memahami esensi keluhan para relawan itu.

Pihaknya berencana memanggil para pemimpin stasiun TV beserta pemimpin redaksinya pada Senin ini. “Kalau soal memanggil akan memanggil Senin besok sore, pimpinan stasiun tv dan redaksinya, lebih komprehensif dalam kondisi seperti ini. Suratnya dikirim besok pagi, dan pertemuannya sore,” jelas dia.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PT.SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…