Minggu, 7 November 2010 22:56 WIB Hukum Share :

Pemulung curi sepeda angin

Solo (Espos)–Sugiyo alias Utomo, 59, warga Nglarong, Wates, Kulon Progo terpaksa harus berurusan dengan aparat kepolisian. Pasalnya, warga yang bekerja sebagai seorang pemulung itu tepergok massa dan petugas patroli saat mencuri sepeda angin di ruas Jalan Urip Sumoharjo, Jebres, Jumat (5/11).

Menurut Kapolsek Jebres, AKP I Wayan Sudhita di dampingi Kanitreskrim, Iptu Suharjo mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol Nana Sudjana tersangka nekat mengambil sepeda milik Muh Santoso, 40, warga Semanggi, Pasar Kliwon untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Saat itu, Santoso memarkir sepeda anginnya di depan toko perabot rumah tangga di ruas Jalan Urip Sumoharjo. Pada saat yang bersamaan, tersangka melintas di depan toko perabot rumah tangga itu. Diduga, lantaran ‘gelap mata’ dan sedang membutuhkan uang, tersangka langsung mengambil sepeda angin di lokasi parkir yang ditinggal pemiliknya.

“Kebetulan, waktu tersangka mengambil sepeda angin ada warga di sekitar lokasi yang melihat kejadian itu. Beruntungnya lagi, di dekat TKP juga ada petugas patroli. Jadi, saat itu pula petugas bersama-sama warga mengejar tersangka dan menangkapnya,” katanya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Minggu (7/11).

Lebih lanjut dia mengatakan, guna menghindari amukan massa, petugas patroli langsung membawa tersangka ke Mapolsek Jebres. Di hadapan penyidik, tersangka mengaku sudah dua kali melakukan tindak pencurian.

Rencananya, tersangka dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang Pencurian dengan ancaman hukuman penjara lima tahun.”Pada tahun 2009, tersangka memang pernah mencuri sebuah becak di Kampung Sewu. Tapi, selang beberapa hari kemudian, becak itu dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Mungkin, karena dia takut ketahuan, makanya becak segera dikembalikan,” ulas dia.

Menurut tersangka, Sugiyo, sejak beberapa hari terakhir dirinya tidak mendapatkan uang sama sekali. Hal itu disebabkan, bisnis barang bekas yang digelutinya sejak tahun 1991 dianggap sedang sepi.

“Saya di Solo tidak memilik orang tua, saudara, isteri, ataupun anak. Saya di sini hidup sendiri. Saya datang dari Wates ke Solo memang berniat bekerja sebagai pemulung. Tapi, karena lagi sepi, saya pun mencuri sepeda angin. Saya sangat bingung saat ini. Sepertinya, saya ingin mati saja sekarang,” kata dia.

pso

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat…