Minggu, 7 November 2010 02:18 WIB Klaten Share :

Bayi pelipur luka lara....

Oleh: Aries Susanto

Sugeng dan istri tercintanya, Sri Rahayu akhirnya tak lagi diselimuti awan muram penuh kecemasan. Sabtu (6/11) pagi hari, ketika jarum jam bergeser pukul 8.30 WIB, seorang bayi yang lama dirindukannya itu akhirnya lahir dengan selamat.

Jerit tangisnya kala itu sungguh telah menghapus luka lara warga Desa Balerante Kecamatan Kemalang Klaten itu sejak sebelas hari tinggal di barak pengungsian dengan sejuta kecemasannya.

“Padahal, selama hamil tua, istri saya ngungsi terus dari satu tempat ke tempat lain,” kata Sugeng dengan wajah berbinar saat berbincang dengan Espos di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Soeradji Tirtonegoro Klaten, Sabtu (6/11).

Sugeng sama seperti ribuan pengungsi lainnya di Lereng Merapi yang juga petani kecil. Mereka meninggalkan ternak sapi yang tiap hari terus membayangi tidur malamnya. Tentang makanannya, tentang kesehatannya, juga tentang nasibnya jika sewaktu-waktu gunung teraktif di Nusantara itu memuntahkan isi lambungnya.

“Tiap hari ketar-ketir terus. Padahal, ada enam ekor. Empat milik ibu
saya,” imbuhnya.

Namun, sejak petaka Merapi meletus Jumat (5/11) dini hari dengan dahsyatnya, Sugeng tersentak betapa nyawa anaknya, dirinya dan juga keluarganya itu jauh lebih penting di atas segalanya.

Kala itu ia merasakan betapa semburan pasir basah menyerupai lumpur di sekujur tubuhnya itu sangat dahsyat. Ia juga merasakan bagaimana kepanikan relokasi pengungsian besar-besaran di malam yang mencekam itu.

Peristiwa itulah yang kini membuat Sugeng menemukan ilmu kerelaan. Ia pun  melepas ternak-ternaknya—harta berharga satu-satunya itu—dengan segala kebesaran jiwanya.

“Kami sudah merelakan. Ternak kan masih bisa dicari. Kalau nyawa?” ujar Mbah Tomo, ibu Sugeng dengan bijak.

Sejak itulah, Sugeng dan keluarganya sudah tak lagi mencemaskan nasib ternak-ternaknya, meski tinggal berjarak hanya 5 kilometer dari mulut Merapi.

Dia juga tak lagi nekad merumput ke lereng Merapi, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya bersama warga lainnya. Sugeng sungguh pasrah, andaikan sumber mata pencahariannya itu harus terlibas muntahan Merapi.

“Sejak Merapi meletus, malam itu (Jumat, 5/11-red), kami sudah tak lagi menjenguk sapi. Kami ikhlas,” paparnya.

Sugeng pasrah dengan kebesaran jiwanya. Ia orang kecil yang terpaksa tinggal di pengungsian lantaran tak punya saudara di daerah aman.

Setiap hari, ia bertahan dan berpikir atas keselamatan bayinya itu. Ia bahkan tak tahu sama sekali bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengeluarkan kebijakan agar pemerintah membeli hewan-hewan ternak milik warga lereng Merapi atau menggantinya jika mati karena letusan Merapi.

“Saya nggak tahu itu. Kalau dapat ganti, saya malah bersyukur,” tuturnya.

Apa yang menimpa Sugeng—baik bencana Merapi dengan segala kepedihannya itu ataupun anugerah sang buah hatinya—sungguh telah membuatnya sadar betapa Tuhan sangat menyayanginya.

Meski ia bersama keluargnya harus berlarian dengan ancaman Merapi, namun ia terus berharap tanpa putus asa. Ia rela berteduh di barak pengungsian demi menanti kelahiran sang buah hatinya itu.

“Saat ini, kami sudah tak khawatir lagi. Sudah ada bayi yang membuat kami bahagia,” pungkasnya.

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…