Sabtu, 6 November 2010 03:45 WIB Ekonomi Share :

Pasokan dari Boyolali kosong, harga sayuran naik

Solo (Espos)--Harga sejumlah sayuran di pasar tradisional merangkak naik. Sejumlah pedagang menuturkan, kenaikan harga sayur disebabkan karena pasokan dari wilayah Boyolali kosong.

Dari pantauan Espos di Pasar Legi, Jumat (5/11), harga sayur rata-rata naik Rp 500 hingga Rp 2.000 per kilogramnya.

Salah satu pedagang sayuran, Sumarni, 47, menyampaikan pedagang harus memasok sayuran dari wilayah selain Boyolali yang berakibat biaya untuk transportasi menjadi lebih tinggi.

“Jadi, harganya juga naik. Selain dari Boyolali, pedagang sekarang meminta kiriman sayuran dari Salatiga atau dari Tawangmangu,” tuturnya, saat ditemui Espos, Jumat.

Disampaikannya, sejumlah sayuran yang mengalami kenaikan harga di antaranya wortel, kubis, buncis, labusiam, dan kembang kol. Wortel naik dari Rp 4.000 per kilogram menjadi Rp 4.500 per kilogram.

Atau, untuk wortel ukuran kecil naik dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.000 per kilogram. Kubis, naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.000 per kilogram. Labusiam, naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.500 per kilogram. Kembang kol naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram.

Ia pun menjelaskan, kualitas sayuran yang masih bisa dikirim dari wilayah Boyolali, banyak yang rusak.

Senada disampaikan pedagang sayur lainnya di Pasar Legi, Wakiman, 51.

“Harga sayuran langsung mengalami kenaikan sejak ada bencana Merapi. Sayuran banyak diproduksi petani yang ada di dataran tinggi, salah satunya Selo, Boyolali. Pada kondisi seperti ini, jelas pasokan dari Boyolali kosong.”

Ia sendiri terpaksa mencari pasokan sayuran dari wilayah Tawangmangu. “Ada juga yang saya datangkan dari Salatiga.”

Meskipun harga sayuran naik, tetapi menurutnya tidak ada pengaruh terhadap permintaan sayur. “Kalau untuk sayuran, meskipun harganya naik permintaan tetap tinggi.”

haw

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…