Sabtu, 6 November 2010 10:26 WIB News Share :

Korban meninggal letusan Merapi mencapai 76 orang

Jogja--Korban meninggal dunia akibat letusan awan panas Gunung Merapi hingga Sabtu (6/11), pukul 10.00 WIB, yang berada di instalasi Forensik Rumah Sakit Sardjito Jogja bertambah lima orang sehingga menjadi 76 jiwa.

“Korban meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Sardjito Jogja bertambah lagi lima orang dari sebelumnya 71 orang sehingga menjadi 76 orang, sedangkan yang luka bakar berat sebanyak 66 orang,” kata¬† Kepala Bagian Hukum dan Humas RS Sardjito Jogja, Trisno Heru Nugroho, Sabtu (6/11).

Ia mengatakan RS Sardjito hingga kini merawat sebanyak 66 korban dari sebelumnya 77 korban luka bakar letusan awan panas vulkanik Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari karena sisa korban sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Menurut dia, kondisi 66 korban luka bakar akibat letusan awan panas Gunung Merapi hingga kini masih dalam kondisi kritis sehingga perlu penanganan intensif karena luka bakarnya mencapai 50 persen. “Kami akan berusaha seoptimal mungkin untuk merawat para korban,” jelasnya.

Ia mengatakan kekurangan alat bantu pernapasan di RS Sardjito kini sudah teratasi sehingga bisa membantu kalangan penderita luka bakar tingkat berat ini dapat ditangani dengan baik.

“Sebanyak 75 persen korban menderita luka bakar, termasuk saluran pernapasan korban juga ikut terbakar. Mereka sulit bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernpasan,” katanya.

Anggota Tim Dokter Disaster Victim Identification (DVI) Kompol Agung Hadi Wijanarko mengatakan kemungkinan jumlah korban akibat letusan Gunung Merapi masih bisa bertambah mengingat ada sebagian lokasi belum dijangkau tim SAR, TNI, Polri, dan relawan akibat lahar yang masih panas. “Saya yakin korban akan terus bertambah,” kata dia.

Ia mengatakan korban meninggal dunia dan luka bakar berat merupakan warga Kecamatan Cangkringan yang letaknya 15 kilometer dari Gunung Merapi. “Saat terjadi letusan pukul 00.40 WIB mereka masih tertidur nyenyak,” ungkapnya

“Kami meminta kalangan masyarakat yang mempunyai keluarga di Cangkringan agar datang ke RS Sardjito untuk membantu mengidentifikasi korban dengan memberikan data-data sekunder karena jika tanpa ada data-data sekunder, maka tim forensik akan kesulitan mengetahui identitas korban,” pintanya.

ant/rif

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….