dok: detikfoto dok: detikfoto
Jumat, 5 November 2010 11:54 WIB Kesehatan Share :

Waspadai ancaman gas beracun di balik hujan abu

dok: detikfoto

dok: detikfoto

Jakarta–Hujan abu bukan satu-satunya ancaman dari letusan Gunung Merapi, sebab semburan material vulkanik itu biasanya disertai gas-gas beracun. Karena sifatnya ringan dan tidak berwarna, gas-gas itu kadang meluncur lebih jauh namun tidak disadari.

Pakar genetika dari Human Genome Center, Universiti Sains Malaysia, dr Teguh Haryo Sasongko, PhD mengatakan luncuran gas-gas tersebut perlu diwaspadai. Bukan tidak mungkin, kadarnya terus meningkat akibat aktivitas Merapi yang tak berhenti meletus sejak akhir Oktober lalu.

Dalam rilis yang diterima, Jumat (5/11), dr Teguh mengatakan setidaknya ada tiga jenis gas beracun yang bisa ditemukan dalam setiap letusan gunung berapi, termasuk Gunung Merapi. Ketiganya adalah sulfur dioksida, karbon dioksida dan hidrogen sulfida.

Keracunan sulfur dioksida ditandai dengan kesulitan bernafas, sakit dada, iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan, batuk-batuk dan lain-lain. Karena mengandung belerang, sifatnya mudah dikenali dari bau busuk menyengat yang bisa menyebabkan sesak napas.

Gas beracun yang juga mudah dikenali dari baunya adalah hidrogen sulfida, yang baunya tajam seperti kentut. Dalam kadar rendah sekalipun gas ini dapat memicu iritasi pada mata, sementara pada kadar tinggi dapat mengiritasi saluran penafasan.

Sedangkan gas beracun dari letusan gunung berapi yang kemunculannya sering tidak disadari karena tidak berbau adalah karbon dioksida. Padahal gas ini memiliki berat jenis lebih tinggi dari udara, sehingga mudah terbawa ke tempat yang lebih rendah yakni pemukiman penduduk.

Peningkatan karbon dioksida dapat menimbulkan masalah pernafasan, dengan tingkat keparahan sesuai kadarnya di dalam udara yang terhirup. Pada kadar lebih dari 5 persen gas ini dapat menimbulkan sesak nafas, sedangkan pada kadar lebih 30 persen dapat menyebabkan kematian.

Mengingat aktivitas Gunung Merapi yang terus meningkat dan sebaran abu vulkanik terus meluas, dr Teguh menganjurkan beberapa langkah untuk mencegah dampak negatif dari gas beracun. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Masker yang sesuai perlu disuplai dan dibagikan secara masif (besar-besaran) pada masyarakat. Masker yang dimaksud berbentuk seperti cup dan bukan masker kain yang sering terlihat dipakai masyarakat.

2. Otoritas kesehatan di daerah-daerah pengungsian dan di kota-kota sekitar Gunung Merapi perlu memperhatikan timbulnya gejala-gejala ini pada masyarakat dan mengambil tindakan kuratif dan preventif yang sesuai.

3. Otoritas terkait (seperti Kementian Lingkungan Hidup) perlu secara ketat memantau peningkatan kadar gas-gas beracun vulkanik ini pada daerah-daerah pengungsian dan pemukiman penduduk di kota-kota sekitar Gunung Merapi.

4. Perlu pendidikan pada masyarakat (dengan cara-cara darurat, seperti penyebaran pamflet dari udara dan lain-lain) mengenai tanda-tanda keracunan gas-gas vulkanik serta pertolongan pertama yang dapat dilakukan.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…