Jumat, 5 November 2010 20:28 WIB News Share :

Mbah Ponimin & istri tak diketahui keberadaannya

Sleman–Di saat Merapi semakin mengganas, keberadaan Mbah Ponimin tak diketahui oleh keluarganya.

Terakhir kali pada Kamis (4/11) tepat sebelum Merapi kembali mengeluarkan awan panas dahsyat, Mbah Ponimin dan istrinya pergi meninggalkan rumah untuk mencari tempat berdoa.

Demikian disampaikan oleh anak perempuan Ponimin, Lia Hatifah, 24, saat dihubungi detikcom, Jumat (5/11).

Seperti dilansir detikcom, Lia mengaku tidak tahu keberadaan kedua orang tuanya hingga kini. Dia menuturkan, pada Kamis (4/11) pukul 23.00 WIB, Mbah Ponimin dan istrinya, Yati, pergi meninggalkan kediaman Dr Anna Ratih Wardani di Dusun Ngentak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, yang menjadi tempat pengungsian keluarga Ponimin.

“Semalam jam 11 bapak sama ibu pergi, katanya mau nyari tempat yang tenang untuk ngaji sama berdoa, supaya bencana cepat berakhir,” tuturnya.

Lia mengaku tidak mengetahui secara pasti kemana kedua orang tuanya tersebut pergi. Yang jelas baik Ponimin dan istrinya pergi meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.

Kaki Ponimin yang sempat mengalami luka bakar, menurut Lia, sudah sembuh dan bisa digunakan untuk berjalan normal.

“Kita enggak tahu kemana. Tapi enggak diantar siapa-siapa. Hanya berdua. Jalan kaki,” terang Lia.

Hingga kini, Lia beserta suami dan adiknya yang masih berusia 6 tahun masih menumpang di rumah Dr Anna. Dia pun tidak mengetahui kapan Ponimin dan istrinya kembali pulang ke rumah, karena sama sekali tidak ada komunikasi antara dirinya dengan kedua orang tuanya tersebut.

“Belum (ada komunikasi), wong HP semua ditinggal. Enggak tahu kapan pulangnya,” tandasnya.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…