Jumat, 5 November 2010 19:28 WIB Sukoharjo Share :

Dampak letusan Gunung Merapi Minimnya stok pasir mulai terasa

Sukoharjo (Espos)–Kalangan pengusaha material di beberapa wilayah Sukoharjo mulai merasakan dampak minimnya stok pasir. Hal itu dirasakan dalam sepekan terakhir atau setelah Gunung Merapi bergejolak.

Selain minim, harga pasir cenderung mengalami kenaikan. Salah satu karyawan toko material di Jl Raya Songgo langit, Gentan, Baki, Subroto, 30, mengatakan, kenaikan harga pasir itu dirasakan sepekan terkahir. Dia menjelaskan harga pasir yang telah diayak alus mencapai Rp 225.000 sampai Rp 230.000 per ritnya atau ukuran bak mobil pickup. Dalam kondisi stabil, pasir sebanyak itu biasa di jual oleh tokonya senilai Rp 210.000 sampai Rp 215.000.

“Pasir ayakan kasar pun naik. Kenaikan rata-rata Rp 20.000 per ritnya,” katanya saat ditemui Espos, Jumat (5/11).

Broto menjelaskan kenaikan harga pasir yang dijual oleh truk-truk di pinggir jalan cukup drastis. Pasir yang biasa dijual seharga Rp 600.000 sampai Rp 650.000 per bak truk, saat ini bisa dijual seharga Rp 800.000. “Memang harga terus naik. Padahal permintaan pasir di cuaca seperti ini juga mulai naik,” akunya.

Senada, salah satu penyedia pasir truk, Sunardi, warga Manang RT 1/RW I, Grogol, mengatakan stok pasir sudah mulai langka. Beberapa truk miliknya yang biasa mengambil pasir di beberapa lereng Merapi, mulai beralih mencari pasir kali.

Sunardi yang juga sebagai produsen paving blok, bis beton dan batako, mulai mengeluhkan kenaikan biaya produksi lantaran harga pasir meningkat. Pasir yang didapat melalui pengoperasian truk miliknya membutuhkan biaya Rp 650.000. Sebelumnya, dia mampu mendatangkan pasir satu bak truk seharga Rp 500.000 sampai Rp 550.000.

Padahal, lanjutnya, kebanyakan pembangun atau proyek cenderung menahan pekerjaan di saat Merapi bergejolak. Dia mengaku keuntungan penjualan beberapa hasil materialnya itu menurun. Sebagai contoh, Sunardi yang biasa mendapat keuntungan Rp 5.000 sampai Rp 6.000 dari satu meter persegi penjualan paving blok. Namun dalam keadaan kesulitan bahan pasir, dia mengaku hanya mengambil keuntungan Rp 4.000 per meter perseginya. “Kami tak berani mengambil untung terlalu banyak masalahnya sedang susah juga menjual produk,” akunya.

m85

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…