Kamis, 4 November 2010 02:14 WIB Pendidikan Share :

RSBI siap terima siswa tidak mampu

Solo (Espos)--Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Solo siap menerima siswa dari keluarga tidak mampu pada Tahun Ajaran 2011/2012.

Hal ini menyusul pernyataan dari Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Solo, Rakhmat Sutomo, Rabu (27/10), yang mengungkapkan pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) Tahun Ajaran 2011/2012, rencananya akan ada PPDB awal bagi siswa tidak mampu di RSBI. Setiap sekolah RSBI diminta memenuhi kuota 10%-20% bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

Ketika ditemui Espos di ruang kerjanya, Rabu (3/11), Kepala SMAN 1 Solo, M Thoyibun, mengungkapkan sejak beberapa waktu lalu ia telah merencanakan kebijakan untuk mengadakan tes seleksi PPDB lebih awal bagi siswa tidak mampu. Jika siswa tersebut lolos tes seleksi, akan dibebaskan dari sumbangan pengembangan pendidikan maupun sumbangan rutin.

Rencananya jumlah siswa ditetapkan 10% dari kuota siswa secara keseluruhan. “Jadi sebelum ada kebijakan dari Disdikpora, saya telah merencanakan hal itu untuk diaplikasikan pada PPDB mendatang,” jelasnya.

Terkait kuota yang hanya 10%, Thoyibun mengatakan hal ini karena dirinya juga merencanakan akan mengadakan seleksi pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi tinggi selama tiga tahun sebanyak 5% dari kuota siswa yang diterima.

Tapi ia menegaskan meski ada kuota yang ditentukan, calon siswa dari keluarga tidak mampu itu tetap harus memenuhi standar nilai yang ditentukan dari pusat ketika akan menjadi siswa RSBI. Yaitu nilai rata-rata rapor dari kelas VII-IX minimal 7,5. Terutama nilai mata pelajaran IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika, nilai wawancara Bahasa Inggris minimal 7,5, lolos tes seleksi, nilai rata-rata minimal mata pelajaran yang di UN-kan 7,5, dan saat wawancara ada kesiapan dari orangtua dan siswa untuk menjadi siswa RSBI.

“Hal ini karena tuntutan menjadi siswa RSBI lebih besar dari sekolah umum. Terutama terkait penguasaan Bahasa Inggris dan teknologi informasi. Sehingga butuh dukungan orangtua,” ungkapnya.

Jika kebijakan ini benar-benar dilaksanakan Thoyibun berharap Pemkot Solo memberikan rambu-rambu yang jelas tentang kuota 20% bagi siswa dari keluarga tidak mampu itu. Apakah mereka akan digratiskan sepenuhnya atau menggunakan sistem keringanan sesuai kemampuan siswa. “Perlu diatur juga dana bagi siswa itu bersumber dari mana. Apakah dijamin oleh Pemkot atau diserahkan kepada sekolah,” terangnya.

Senada, Humas SMPN 4 Solo, Redy Sarwanto, berpendapat jika wacana PPDB lebih awal bagi siswa tidak mampu akan dilaksanakan, SMPN 4 sebagai institusi dibawah Disdikpora Solo akan mencermati terlebih dahulu kebijakan itu. Lalu melaksanakan sesuai ketentuan.

ewt

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…