Kamis, 4 November 2010 19:47 WIB News Share :

PMI kurangi dampak trauma pada anak

Salatiga (Espos)–Musibah meletusnya Gunung Merapi sejak sepekan silam menyisakan trauma di kalangan warga yang bermukim di kaki gunung paling aktif tersebut. Kalangan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami trauma ini dibandingkan warga usia dewasa.

Dari pantauan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah, banyak ditemukan anak-anak yang mengalami trauma di pengungsian. Oleh karenanya, PMI menerjunkan tim PSP (Psikososial Supporting Programe) di sejumlah lokasi pengungsian seperti di Desa Jemowo dan Sangup, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.

“Trauma yang dialami anak-anak ini harus diminimalisasi dampaknya. Selain penanganan pengungsian, dapur umum, evakuasi dan medis, PMI juga menurunkan tim PSP,” ungkap Dwi Handoko, Kepala Bagian Penanggulangan Bencana melalui staf Humas PMI Jateng, Muhammad Nashir melalui rilisnya, Kamis (4/11).

Tim ini menggelar sejumlah kegiatan hiburan dan permainan agar anak-anak bisa melupakan soal bencana meletusnya Merapi. Anak-anak diajak bernyanyi, bermain dengan atraktif menggunakan bola dan balon.

Aktifitas serupa juga dilakukan PMI di pengungsian Jumoyo, Kabupaten Magelang. Posko Penanggulangan Bencana PMI Jateng menyatakan seluruh penduduk Kecamatan Selo, Kabupaten Bayolali, Jawa Tengah, telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Hal ini terkait status waspada dalam radius 15 Km dari puncak Merapi.

kha

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…