Kamis, 4 November 2010 16:27 WIB Wonogiri Share :

Nama Bupati Wonogiri dan ajudan dicatut

Wonogiri (Espos)–Bupati Wonogiri, H Danar Rahmanto meminta para pejabatnya tidak menanggapi telepon yang mengatasnamakan dirinya, utusan atau mengatasnamakan ajudannya. Karena Si penelepon ujung-ujungnya meminta dana sebagai biaya acara pelantikan 1 November lalu. Selain itu, si penelepon juga menawarkan sebuah jabatan dan mengajak bertemu di rumah dinas Bupati.

Pernyataan Bupati disampaikan, Kamis (4/11) menanggapi maraknya informasi yang meresahkan pejabat di lingkungan Pemkab Wonogiri. “Bagi kami, telepon itu tidak benar dan tidak usah ditanggapi. Kami percaya, para pejabat di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemerintahan sudah tahu dan kenal dengan Bupati, kenapa harus mengutus seseorang,” ujar Bupati.

Dijelaskan, kabar pencatutan dirinya sudah terdengar sehari setelah pelantikan. “Kami tekankan, semua pejabat bekerja profesional. Tidak ada tarikan atau permintaan anggaran kepada masing-masing SKPD. Semua kegiatan pemerintahan telah dianggarkan melalui APBD, termasuk biaya pelantikan kemarin. Jadi tidak benar, jika perusahaan swasta harus menyokong pendanaan pelantikan.”

Informasi yang diperoleh Espos, pencatutan nama Bupati dan ajudan telah beredar Selasa atau sehari setelah pelantikan. Seperti dikemukakan Kepala SMPN 2 Wonogiri, Marno. Dia mengaku, salah seorang staf tata usaha ditelepon seseorang yang mengaku ajudan Bupati. “Pesannya, kami ditunggu Bupati di rumah dinas. Jam juga sudah disebutkan. Ajudan Bupati disebutkan bernama Herman, karena curiga kejadian itu sudah kami koordinasikan dengan Kabag Humas.”

Sementara salah satu RS swasta di Nambangan, Selogiri dikabarkan ditelepon seseorang yang mengaku Bupati Wonogiri untuk meminta bantuan dana senilai Rp 75 juta. Dana itu untuk acara pelantikan Bupati, 1 November lalu. Telepon serupa juga diterima oleh Direktur BPR BKK Wonogiri, Sucipto, namun Sucipto akan menemui langsung Bupati Wonogiri. Saat menjawab akan bertemu langsung dengan Bupati, Sucipto malah dimarahi si penelepon.
tus

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…