Kamis, 4 November 2010 04:25 WIB Klaten Share :

Kabar buruk di senja hari ….

Oleh: Aries Susanto

Kabar buruk itu datang, Rabu (3/11) senja hari. Ny Supar, seorang ibu muda yang berpakain kebaya putih kala itu masih menyisakan rona kekalutan pada wajahnya.

Ia sesekali menoleh ke utara, arah di mana kabut tebal masih menyelimuti Gunung Merapi.

“Tadi saya nggak nyangka kalau terjadi hujan pasir di desa kami,” kata Ny Supar dengan nafas terengah-engah di lapangan Keputran Kemalang.

Detik itu, Ny Supar baru saja menginjakkan kakinya di rerumputan lapangan Keputran Kemalang setelah berhasil lolos dari amukan Merapi.

Ia tak beralas kaki, selain hanya masker kecil yang melekat di mukanya. Letusan Merapi yang membabi buta kala itu sungguh membuatnya kalang kabut.

“Saat itu, kami sedang mengelar tasyakuran sepasaran (sepekan-red) kelahiran anak kami. Tiba-tiba, terdengar letusan kencang dan langsung hujan pasir membuyarakan acara kami,” lanjutnya sambil berlarian mencari saudaranya sebelum sempat menyebutkan nama anaknya.

Tak seberapa lama, Ny Supar pun berhamburan ke tengah-tengah lautan manusia bersama kepanikan pengungsi lainnya senja itu. Ny Supar sungguh tak menyangka jika hari itu adalah penuh kelabu.

Acara tasyakuran sebagai penanda usia anaknya yang sepekan itu dilahirkan akhirnya gagal total. Warga Kendalsari kemalang itu seakan merelakan segala yang terjadi kala itu dengan segenap kecemasan dan harapannya.

“Tadi sebenarnya sudah banyak warga yang berkumpul. Namun, gara-gara letusan Merapi, acaranya langsung buyar,” ucap tetangga Ny Supar yang berlarian mencari saudaranya.

Ny Supar hanyalah satu di antara ribuan warga lereng Merapi yang terpaksa mencicipi keganasan Merapi. Dia masih beruntung, sebab bayinya masih terselamatkan.

Sama halnya dengan kisah Mbah Darso, seorang Lansia yang kala itu hanya tergolek di pembaringan posko kesehatan lapangan Keputran.

Meski ia sempat tertinggal di lereng Merapi ketika Merapi memuntahkan isi perutnya, namun Lansia yang tak lagi bisa berjalan itu masih ditemukan dalam kondisi selamat.

Letusan Merapi yang kesekian kalinya itu sungguh membuktikan betapa gunung teraktif di Nusantara itu memang masih diselimuti misteri.

Ketika kabut tebal menyelimuti puncaknya, diam-diam Merapi malah bergolak. Ribuan warga yang kala itu tengah merumput, menggelar hajatan, hingga sekadar menjenguk rumah pun dibikin panik.

“Kebanyakan warga saat itu berada di sawah. Pas terdengar dentuman keras, tiba-tiba disusul hujan pasir dan abu,” kata Ketua Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Klaten, Sri Winoto.

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…