Rabu, 3 November 2010 09:17 WIB News Share :

PNS Pamekasan diharuskan berbahasa Madura

Pamekasan–Para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Pamekasan, Madura, Jawa Timur, dalam sepekan ini mulai tanggal 1 hingga 6 November diharuskan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Madura dan memakai batik Madura.

Kepala Seksi Pembinaan Seni Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional Dinas Pemuda Olah Raga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan, Halifaturrahman, Rabu, menjelaskan, kebijakan mengharuskan para PNS berbahasa Madura ini sebagai rangkaian dari kegiatan “Pekan Budaya Madura” dalam rangka memperingati hari jadi ke-480 Kota Pamekasan.

“Kebijakan ini juga sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Madura terhadap bahasa leluhurnya. Sebab tidak sedikit warga Pamekasan yang belum memahami bahkan banyak yang tidak mengerti akan Bahasa Madura sebagai bahasanya sendiri,” kata Halifaturrahman.

Sementara khusus instruksi pemakaian batik Madura, menurut Halifaturrahman, juga merupakan salah satu upaya untuk menjunjung tinggi dan meningkatkan kecintaan warga Pamekasan terhadap hasil kreasi budayanya sendiri.

Keharusan berbahasa Madura selama enam hari berturut-turut ini tidak hanya di lingkungan perkantoran, namun mereka ini juga diminta mempraktikkan menggunakan Bahasa Madura di rumahnya masing-masing dengan sesama keluarganya.

“Yang jelas selama enam hari ini,  PNS harus berbahasa Madura dimana pun dia berada. Baik di kantor ataupun di rumahnya masing-masing,” terang Halifaturrahman.

Halifaturrahman menambahkan, kecenderungan yang terjadi di Pamekasan selama ini, banyak para orang tua yang cenderung mengajari anak-anaknya dengan Bahasa Indonesia, tanpa mengindahkan pembelajaran Bahasa Madura sebagai bahasa ibu warga Madura.

Akibatnya, orang Madura sendiri justru banyak yang tidak tahu berbahasa Madura dengan baik dan benar.

“Kalaupun bisa, namun struktur bahasa dan tingkatan bahasa yang digunakan cenderung tak beraturan,” katanya.

ant/rif

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…