Rabu, 3 November 2010 18:27 WIB News Share :

Pemprov akan bangun barak pengungsian permanen Merapi

Semarang (Espos)–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng akan membangun barak tempat pengungsian permanen bagi warga bila terjadi bencana meletus Gunung Merapi.

Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Rustriningsih menyatakan harus ada sarana dan prasarana barak pengungsian permanen untuk menghadapi siklus letusan Gunung Merapi.

“Lebih baik membangun barak pengungsian permanen, daripada melakukan relokasi warga sekitar lereng Gunung Merapi,” katanya ketika ditemui wartawan usai mengikuti sidang paripurna DPRD Jateng di Gedung Dewan Jl Pahlawan, Kota Semarang, Rabu (3/11).
Pasalnya lanjut Wagub, kalau memaksakan relokasi belum tentu diterima warga setempat karena terkait mata pencaharian yang sudah mapan.

Selain itu relokasi membutuhkan dana cukup besar sebab jumlah warga yang tinggal daerah rawan bencana III Gunung Merapi kurang lebih 40.000 jiwa.

“Solusinya untuk menghadapi siklus lima tahunan letusan Gunung Merapi dengan membangun barak pengungsian permanen, sehingga penanganan warga yang mengungsi bisa lebih baik,” papar Rustri.

Wagub menambahkan pemerintah pusat akan memberikan bantuan pendirian penampungan permanen di dua tempat dengan kapasitas masing-masing 1.500 jiwa pengungsi.

Rencananya tempat pengungsian permanen ini akan didirikan di Magelang. Hanya saja, ujar Rustri akan mengusulkan agar kapasitas penampungan pengungsi bisa lebih banyak lagi.

“Karena warga yang mengungsi mencapai puluhan ribu jiwa,” tandas mantan Bupati Kebumen ini.

Untuk persiapan rencana pembangunan barak pengungsi permanen, sambung Wagub akan digelar rapat di Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Kedu antara pimpinan daerah dan sekretaris daerah di wilayah Kedu.

“Bila sudah permanen maka bila sewaktu-waktu ada letusan Gunung Merapi warga tahu mengungsi kemana,” ujarnya.

Terpisah anggota Komisi DPRD Jateng Sri Praptono menyatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Jateng telah mengajukan pembangunan barak pengungsi permanen.

“Pembangunan barak pengungsi permanen ini di tiga lokasi yakni Bawukan, Dompol, dan Keputren yang mampu menampung 5.000 jiwa,” kata dia.

oto

lowongan pekerjaan
dr. NORMA AESTHETIC CLINIC, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…