Rabu, 3 November 2010 15:17 WIB News Share :

Mbah Rono ngaku tak kuat jika 'dipasrahi' Merapi

Jakarta--Dr Surono, yang kini menjabat Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM tidak keberatan dipanggil Mbah Rono gara-gara ‘akrab’ dengan Gunung Merapi yang penuh cerita mistis itu.

Namun pria bergelar doktor itu mengaku tidak kuat jika ditunjuk menjadi “juru kunci” gunung berapi itu.

“Kalau dipasrahi, saya tidak kuat, nggak berani saya,” kata pria yang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipanggil Mbah Rono ini seperti dilansir detikcom, Rabu (3/11).

Surono mengatakan, Merapi adalah milik masyarakat Yogyakarta. Karena itu, orang yang ‘dipasrahi’ untuk menjaga Merapi sebaiknya juga masyarakat Yogyakarta.

“Itu milik masyarakat Yogyakarta, saya pikir serahkan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi saja. Mereka sebenarnya sudah tahu seluk beluk Merapi,” lanjut pria berusia 55 tahun itu.

Namun Mbah Rono tidak akan tinggal diam selama status Merapi masih berbahaya untuk warga yang tinggal di sekitarnya. Pria berkacamata ini akan terus berusaha menyuarakan agar warga mau mengikuti pemerintah untuk mengungsi.

“Saya akan di sini selama Merapi masih ‘bergolak’. Paling nggak sampai Merapi berstatus siaga,” ucap pria yang menyelesaikan S1-nya di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Sebelumnya, seorang sosiolog dari Yogyakarta Haedar Nashir menilai Mbah Rono paling cocok menjadi juru kunci Merapi. Hal itu karena Mbah Rono dinilai mampu mengharmoniskan hubungan alam dan manusia.

Di sisi ilmiah, Mbah Rono sangat paham dengan aktivitas Merapi. Namun Mbah Rono juga memahami filosofi masyarakat Jawa yang tinggal di Merapi.

Haedar menilai, jika Mbah Rono diangkat jadi juru kunci Merapi, boleh jadi masalah yang selama ini terjadi terkait perintah mengungsi tidak akan terjadi. Dengan begitu, jumlah korban akibat ‘amukan’ Merapi di tahun-tahun ke depan bisa diminimalkan.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…