Selasa, 2 November 2010 01:17 WIB Klaten Share :

Ganasnya wedhus gembel tetap mereka taklukkan

Oleh: Aries Susanto

Pagi itu tiba-tiba berubah penuh kepanikan. Suara mesin menderu-deru. Jalanan yang lengang mendadak riuh. Orang-orang berhamburan tumpah ke jalan sambil mendongak ke atas.

“Wedus gembel! Wedus gembel!” terdengar teriakan bersahutan.

Dengan gesit, belasan orang berseragam loreng meloncat ke bak truk. Pasukan bersepatu laras itu langsung meluncur ke atas seperti menantang wedus gembel yang bergerak menuruni lereng Merapi.

“Kami hanya berpikir mereka manusia sama seperti kami yang harus diselamatkan. Itu saja yang terlintas di pikiran kami,” kata Kapten (Inf) Sapto Broto, Komandan Tim Posko evakusi dari Kopasus Kandang Menjangan Kartasura, Senin (1/11).

Letusan Merapi di awal November 2010 itu seakan menjadi kisah panjang dari keganasan gunung teraktif di Nusantara itu.

Sapto yang sejak sepekan ini bermalam di tenda pengungsian Keputran Kemalang Klaten telah menyaksikan betapa awan panas yang menyerupai wedus gembel itu adalah mahluk raksasa yang menyeramkam.

“Saya ngeri juga menyaksikan wedhus gembel saat mengevakuasi warga,” imbuhnya.

Warno Tukiyo, warga Sidorejo Kemalang mengaku masih merinding jika mengingat-ingat turunnya wedus gembel ke kampungnya kala itu.

Dia yang kala itu tengah memberi makan ternaknya, tiba-tiba dikejutkan awan panas yang menuruni lereng Merapi.

“Saat itu saya langsung kabur dan menuju titik perkumpulan para pengungsi,” ujarnya.

Beruntung, tak seberapa lama sejumlah pasukan loreng telah siaga di posko dengan truknya. Dengan separoh hati yang tertahan, dia akhirnya meninggalkan hewan ternak yang telah menghidupi keluarganya selama ini.

“Saya berat sebenarnya meninggalkan ternak-ternak di rumah. Tapi mau gimana lagi, kalau wedus gembel telah datang kami tak bisa berbuat banyak,” paparnya penuh kesedihan.

Seperti hari-hari biasa, warga pengungsian selalu meninggalkan barak pengungsian ketika pagi tiba. Mereka yang lahir dan menghirup udara dari lereng Merapi itu seakan telah menyatu dengan aktivitas Merapi sehari-hari.

Ada yang merumput, menambang pasir, bertani, hingga sekedar menuntaskan urusan rumah tangga meski Merapi masih berstatus “awas”. Inilah yang menjadi dilema berkepanjangan. Sebab, ketika Merapi meletus sewaktu-waktu, maka selalu ada orang yang jungkir balik
atas peritiswa itu.

“Kalau jalanan tak rusak sih tak masalah. Lha di Klaten, jalur evakuasi penuh lubang membahayakan,” ucap Sapto.

Jalanan yang berlubang memang menambah daftar panjang musuh para pahlawan penyelamat nyawa itu.

Namun, seberapapun ganasnya wedus gembel atau seberapapun mengejutkannya lubang jalanan evakuasi, semua itu tetap harus mereka taklukkan.

“Ini telah menjadi amanat kami bersama 30 anggota Kopasus,” tegas Sapto.

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…