Senin, 1 November 2010 19:38 WIB Kolom Share :

Oh Ponimin… oh Marzuki…

Sungguh saya dibikin penasaran dengan kisah keluarga Ponimin yang selamat dari amukan sang <I>wedhus gembel<I>, awan panas Gunung Merapi bersuhu antara 600 hingga 1.100 derajat Celcius dengan kecepatan meluncur sekitar 300 km/jam itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, saya juga dibikin penasaran dengan Marzuki Alie, Pak Ketua DPR kita yang ikut memanaskan suhu emosional masyarakat di tengah bencana. Kedua tokoh berbeda strata itu menjadi pembuat berita utama di berbagai media massa karena ”keajaibannya” masing-masing.

Betapa tidak. Keluarga Ponimin, berjumlah tujuh orang itu selamat dari terjangan awan panas yang meluluhlantakkan desanya karena berlindung di dalam mukena. Ajaib!  Sedang Marzuki Alie tak kalah “ajaib” karena sebagai petinggi wakil rakyat justru membuat pernyataan yang dinilai menyakiti nurani rakyat.

Kawan saya Mas Wartonegoro pun ternyata dalam sepekan terakhir ini juga mencermati kisah heroik keluarga Ponimin dan ikut <I>mangkel<I> setelah membaca pernyataan Marzuki bahwa menjadi korban tsunami itu adalah risiko bagi mereka yang tinggal di pantai. ”Kalau takut kena ombak jangan tinggal di dekat pantai,” begitu kata Marzuki seperti ditulis berbagai media massa.

”Kisah Paimin memang ajaib, hampir tidak bisa diterima nalar kalau memang itu benar-benar terjadi. Tapi saya juga merasa aneh mendengarkan Marzuki Ali dengan kapasitasnya sebagai Ketua DPR membuat pernyataan yang bernada sinis dan sama sekali tidak ada unsur empatinya kepada rakyat yang sedang tertimpa bencana,” kata Mas Wartonegoro.

Setengah percaya dan setengahnya tidak, kami memang tertakjub-takjub, saking kagumnya, dengan kisah heroik keluarga Ponimin. Seperti dikisahkan isteri Ponimin, Ny Yati, keajaiban itu berawal dari munculnya sosok misterius. “Tiba-tiba ada seorang tua berpakaian Jawa berdiri di depan saya. Orang itu mengatakan akan mengobrak-abrik Keraton Jogja,” cerita Yati kepada GKR Hemas yang menemuinya di rumah pengungsian Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, akhir pekan lalu.

Dengan sedikit gemetaran Yati bercerita bahwa dia mencegah keinginan sosok orang tua gaib itu. “<I>Aja<I> (jangan),” kata Yati. Sosok orang tua yang katanya terdapat api menyala-nyala di belakangnya itu kemudian menghilang.

Yati, katanya, lantas masuk ke dalam rumah karena dari Gunung Merapi ia melihat ada api yang meluncur ke bawah. Demikian pula Ponimin. Keduanya berlindung di dalam rumahnya bersama anak-anaknya. Mereka bersembunyi di dalam kamar.

Hawa panas menerjang disertai angin kencang dan debu. Di dalam rumah, keluarga ini masuk ke kamar dan berlindung di balik rukuh (mukena) milik Yati. Mereka pun selamat. Ajaib bukan?

”Iya ajaib <I>tenan<I> Mas. Tapi apa itu benar-benar terjadi ya? Awan panas itu minimal 600 derajat Celcius lho. Masak karena berlindung di dalam mukena bisa selamat? Mungkin yang melindungi mereka adalah kamar di salah satu rumahnya itu. Lihat saja di TV, pohon, bangunan, semua makhluk hidup musnah dalam sekejap. <I>Lha<I> keluarga Ponimin ini <I>kok ngedap-edapi, peng-pengan<I>… luar bisa betul?” kata Denmas Suloyo yang ternyata juga penasaran dengan kisah itu.

”Ya sudahlah tidak usah dibahas. Namanya juga keajaiban… kalau Tuhan sudah berkehendak, siapa yang bisa menghalangi,” timpal Mas Wartonegoro.

”Soalnya bukan itu Mas. Saya merasakan ada unsur mistis dalam kisah itu… konkretnya kisah itu kok berbau klenik banget <I>gitu<I> lho,” tambah Denmas Suloyo tetap penasaran.

”Namanya juga Gunung Merapi. Siapa tahu di sana memang masih banyak misteri. Tapi sudahlah, itu tidak penting kita diskusikan karena tidak akan <I>tinemu nalar<I>. Yang penting mari kita bersimpati dan berempati kepada korban Merapi yang hingga kini masih membutuhkan bantuan. Jangan bilang itu risiko mereka tinggal di gunung yang masih aktif seperti logika Pak Marzuki Alie itu,” kata Mas Wartonegoro.

”Nah itu dia Mas! Saya juga heran dengan cara berpikir superrealistis Ketua DPR kita itu. Beliau ini kan orang yang sangat berpendidikan tapi kenapa ya kok kurang mempunyai rasa simpati dan sikap empati ya,” timpal Denmas Suloyo.

<B>Kearifan<B>

Ya… begitulah. Pernyataan Marzuki Alie saat menanggapi bencana di Mentawai memang kontroversial. Jika banyak orang menyampaikan rasa empatinya, Ketua DPR ini seolah-olah justru menyalahkan para korban yang tinggal di dekat pantai. Apalagi saat didesak meminta maaf, dalam tayangan stasiun TV nasional, akhir pekan lalu, dia terlihat tak serius menyampaikan permintaan maafnya itu. ”Ya tidak masalah kalau saya diminta meminta maaf. Terlepas itu apakah salah saya sebagai manusia biasa atau salah kutip dan salah persepsi masyarakat,” katanya.

Ini memang bukan pernyataan kontroversial pertama Marzuki yang dirasakan menyinggung nurani rakyat. Beberapa waktu silam, saat heboh rencana pembangunan gedung DPR/MPR yang di dalamnya terdapat fasilitas mewah termasuk kolam renang, dia mengatakan bahwa airnya bisa dipakai untuk memadamkan kebakaran kalau suatu ketika terjadi kebakaran. Walah!!!

Kecaman memang berdatangan dari berbagai kalangan. Sampai-sampai seorang mantan wartawan bernama Linda mempertanyakan kewarasan Marzuki di blog <I>Kompasiana<I>-nya. ”Sebentar lagi tanggal 6 November ini usia Anda bertambah. Cobalah dibarengi dengan bartambahnya kebijakan, kearifan, kematangan dan kerendahatian. Para cendekiawan, gabungan lembaga swadaya masyarakat dan sejumlah rakyat lainnya telanjur geram, kecewa dan patah hati mendengar pernyataan Anda yang  sangat tidak manusiawi itu,” tulis Linda.

Ponimin… Marzuki Alie… adalah dua sosok manusia yang sedang menjadi pusat berita. Dari keduanya, mengutip Emha Ainun Nadjib, sesungguhnya kita bisa memetik pelajaran tentang demokrasi ilmu, pencakrawalaan wacana, ketangguhan mental sosial serta bagaimana kita semua bisa meningkatkan kematangan filosofi kehidupan, kedewasaan budaya dan kedalaman nurani keagamaan… <f”dingbats-Thin”>q<f”century old style normal”>

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…