Senin, 1 November 2010 19:35 WIB Solo Share :

Obituari Wahyu Susilo
“Hidup saya sudah lengkap…”

“Jadikanlah masa lalu itu pengalaman dan pelajaran, masa kini isi dengan amal dan masa depan jangan terlalu diangankan…”

Jika limabelas tahun silam, ketika saya mengenal Wahyu Susilo, sudah ada Facebook, rasanya mustahil kawan saya yang Minggu malam lalu dipanggil ke haribaan Allah swt ini, menuliskan kalimat-kalimat indah penuh nasihat seperti itu di dinding FB-nya. Status yang dia tulis untuk kali terakhir.

Limabelas tahun lalu duniannya sungguh penuh hura-hura dan gemerlapan. Namun dalam beberapa tahun belakangan, setiap kesempatan menulis status di FB, saya perhatikan dia selalu mengingatkan banyak orang untuk senantiasa memahami makna hidup dan kehidupan di dunia yang fana ini.

Setelah menunaikan ibadah haji dua tahun lampau, dunia Susilo, begitu kami biasa memanggil, memang berubah 180 derajat. Perubahan yang sebenarnya telah dimulai beberapa tahun sebelumnya, tatkala dia menderita sakit dan opname di rumah sakit.

Pergaulannya yang begitu luas, mempertemukan Susilo dengan sahabat-sahabat dengan tingkat religiusitas cukup tinggi di rumah sakit. Dari kawan-kawannya itulah Susilo mulai menyadari apa itu makna hidup. Kepribadiannya perlahan namun pasti kian matang dan menep.

Wahyu Susilo adalah salah satu kawan, rekan sekerja saya yang begitu ”populer” di kantor. Populer dengan tanda kutip karena dia memang sosok yang kontroversial. Namun bagi saya, dia adalah orang yang teguh pendirian terhadap apa yang diyakininya benar.

Kawan-kawannya yang berasal dari berbagai kalangan, mulai preman, politikus, birokrat, ustad hingga orang-orang yang terpinggirkan membuat dia begitu banyak memiliki informasi yang sangat berguna bagi pekerjaannya sebagai seorang jurnalis.

Sebagai seorang pimpinan, dia termasuk ”garang” namun tujuannya jelas, ingin mengader anak buahnya menjadi seorang wartawan andal. Setidaknya ini pula yang dirasakan Ariyanto, salah seorang ”anak didiknya” yang sekarang sudah tidak lagi bekerja di SOLOPOS.

Dalam catatannya di FB, Ariyanto menulis; mungkin saya adalah pemagang reporter pertama yang Bapak “hajar” habis-habisan di depan pintu masuk Griya Solopos sekitar 6 tahun lalu. Saya ingat sekali, betapa takutnya saya kala itu, karena saya dinilai membuat kesalahan. Bapak mengajak saya duduk di depan pintu dan menyidang saya.

Saya sudah mendengar, Bapak orang yang kontroversial. Selalu disebut dalam kasak-kusuk busuk dan omelan di belakang punggung. Saya sudah dalam posisi ingin menjadi bagian orang-orang yang hanya berani membicarakan Bapak di belakang punggung, sebenarnya. Siapa coba yang bisa terima dimaki-maki seperti itu? Sampai kemudian saya mengenal Bapak dengan cara saya sendiri.

Saya baru tahu, memang seperti itulah cara Bapak membuat kami supaya lebih tangguh. Mengalir seperti itulah kemudian kerja sama kita sebagai anak buah dan bosnya, teman wedangan dan teman makan malam. Saya kemudian tahu Bapak sedang mengajari saya tentang sesuatu. “Saya ingin mempersiapkan kamu untuk menguasai desk politik, karena saya merasa regenerasi di kantor lemah,” ujar Bapak kala itu melihat keengganan saya untuk setiap malam <I>kongkow<I>.

Lalu belajarlah saya, dan kinerja saya menurut Bapak memuaskan. Saya tahu, saya mendapat perhatian sedikit berlebih dari Bapak, saya tidak minta itu dan saya risih dengan omongan orang. Dan saya kembali menanyakan ke Bapak saat kasak-kusuk saya tukang jilat beredar. Jawab Bapak, “Untuk apa saya <I>ngopeni<I> orang yang <I>nggak<I> bisa bekerja. Biar saja orang ngomong apapun, yang penting kamu kerja yang bener!”

Begitulah Susilo. Sejak kuliah, dia memang sudah dikenal sebagai aktivis kampus. Lulus dari Sastra Sejarah Fakultas Sastra UNS pada tahun 1990-an, dia langsung bekerja di sebuah koran harian di Malang, anak perusahaan Jawa Pos. Namun karena keluarganya tinggal di Solo, dia sering mondar-mandir di Kota Solo dan memiliki banyak teman wartawan di kota ini.

Tahun 1997, ketika Harian <I>SOLOPOS<I> terbit, Susilo akhirnya bergabung sebagai seorang reporter. Pada tahun 2000 dia diangkat sebagai redaktur muda, dan setahun kemudian diangkat sebagai redaktur penuh. Sepanjang karirnya di lapangan, Susilo memang menunjukkan prestasi yang bagus sekalipun sering pula melakukan tindakan yang kontroversial sehingga tak sedikit pula menerima surat peringatan.

Seiring dengan perjalanan waktu, saya yakin itu karena hidayah Allah, Susilo berubah sekalipun banyak pula yang masih meragukan tentang perubahannya itu. Ketekunannya, keteguhan pendiriannya, karakternya yang kuat serta pergaulannya yang begitu luas mendorong manajemen mengangkat dia sebagai redaktur pelaksana pada tahun 2005, ketika saya diangkat sebagai wakil pemimpin redaksi (Wapemred). Dua tahun kemudian, persinya 7 Juli 2007 Susilo ditetapkan sebagai wakil pemimpin redaksi, saat saya diangkat sebagai pemimpin redaksi.

Dua tahun kemudian, Juli 2009, Susilo mendapat tugas baru di Yogyakarta menjadi salah satu redaktur di <I>Harian Jogja<I> anak perusahaan <I>SOLOPOS<I>. Dengan penuh suka dan duka dia jalani pekerjaannya di koran baru itu. Tidak banyak dia berkeluh kesah setiap kali dia bertemu saya atau sekadar berhubungan lewat <I>chatting<I>. ”<I>Uripku wis komplet<I> Pak Mul…” begitu yang sering saya dengar setiap kali saya tanya tentang keadaannya sekarang. ”Hidup saya sudah lengkap…”

Dan seperti ditulis pula oleh Ariyanto dalam catatan FB-nya, <I>Bahkan YM Bapak masih <I>online<I> dengan status “Tiba Masa Endapkan Jiwa…” saat tubuh Bapak sudah menyatu dengan tanah.<I> Selamat jalan kawan…

Mulyanto Utomo

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…