Kerajinan daur ulang sampah plastik

Mencuci

Pemulung tambah uang, bumi ikut senang (Bagian II/Habis)

Oleh: Nadhiroh

Sedikit demi sedikit, Fajar Purwaningsih, 39, dengan didukung anggota Usaha Kecil Menengah (UKM) Indria Paramitha Karya, Metes, Argorejo, Kabupaten Bantul  mulai menggeluti pembuatan kerajinan daur ulang sampah plastik. Semula hanya memproduksi sandal dan tas kecil.

Lama kelamaan dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman melalui pelatihan serta belajar otodidak, jenis kerajinan yang diproduksi Fajar kian bertambah. Di antaranya tempat handphone, payung, travel bag, tas jinjing tempat laptop dan sebagainya.

Tenaga kerja yang terlibat dalam pembuatan kerajinan daur ulang sampah plastik yaitu 3 penjahit, 2 tukang cuci dan anggota-anggota freelance lainnya seperti pemulung. Hingga kini ada tiga pemulung yang rutin menyetorkan sampah plastik.

Untuk bahan dasar pembuatan kerajinan daur ulang sampah plastik, ibunda Radite Brillianto Rafi Prabowo itu melibatkan keberadaan pemulung yang ada di berbagai tempat di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melalui pemulung yang biasa disebut pengumpul sachet atau bungkus itulah Fajar banyak mendapatkan pasokan sampah plastik.

Kadang, pengumpul sudah menyerahkan sampah plastik yang bersih dan ada pula yang masih kotor. Di rumah, Fajar tak segan-segan mencuci sampah-sampah plastik yang akan diproduksinya.

Sampah sachet plastik yang siap di daur ulang ada harganya masing-masing. Sampah sachet plastik yang tebal Rp 2.000/kg-Rp 2.500/kg. Adapun yang tipis Rp 500/kg. Sedang untuk sampah sachet plastik yang sudah digunting kec il-kecil Rp 4.000/kg-Rp 9.000/kg.

“Kini, jumlah pemulung yang mau mengumpulkan sachet makin bertambah setelah tahu ada harganya,” ucap Fajar.

Mengumpulkan sampah sachet plastik memang baru dilakoni salah satu pemulung, Sutrisno, 27, ketika ada permintaan dari Fajar sekitar tahun 2007. Sebenarnya, Sutrisno sudah berkutat dengan sampah yang menggunung di TPA Sampah (TPA S) Piyungan Kabupaten Bantul sejak lulus dari SD Ngablak.

“Dulu hanya ngumpulin gelas plastik dan botol-botol plastik,” kata Sutrisno saat ditemui Espos, Minggu (17/10), di rumahnya di Ngablak RT 5 RW 44, Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan, Bantul.

Tiap Senin sampai Sabtu, Sutrisno bergelut dengan aroma tak sedap dari sampah di TPA S Piyungan. Biasanya, istri Sutrisno, Poniyem, 24, juga ikut membantu memilah sampah di TPA S tersebut. Sehari-hari mereka bekerja sejak pukul 08.00 WIB-16.00 WIB. Jarak tempat tinggal mereka menuju TPA S sekitar 1 kilometer dengan melalui jalan yang medannya naik turun.

Setelah ada permintaan sampah sachet plastik, ritme kerja istri Sutrisno yang akrab disapa Oni pun berubah. Sehari-hari, Oni lebih banyak bekerja di rumah. Dia bertugas memilih sachet yang tidak rusak dan masih bisa di gunakan.

Oni mencuci sampah sachet plastik di depan rumahnya. Jika sudah ada sampah sachet plastik yang terkumpul, ibunda Kelvin Ristianto itu segera mencucinya. Berbekal air dan sikat, sampah sachet plastik itu dicuci hingga kotoran-kotoran yang melekat bisa hilang. Selanjutnya, sampah sachet plastik itu dimasukkan ke karung plastik.

Susahnya mendapatkan air bersih di wilayah itu tidak menjadi kendala bagi pengumpul. Sutrisno sudah terbiasa mencari air di sungai yang berjarak sekitar setengah kilometer dari tempat tinggalnya.

“Di sini (Ngablak), kalau tidak hujan cari air bersih susah. Saat kemarau pakai air sungai untuk nyuci sampah plastik,” ujar Sutrisno.

Berbekal ketelatenan, Sutrisno dan Oni bisa menambah uang penghasilan. Tiap satu bulan sekali, mereka bisa mengumpulkan 30-50 kilogram sampah sachet plastik. Sebelumnya, jika hanya mengumpulkan gelas atau botol plastik, penghasilan yang terkumpul sekitar Rp 150.000/pekan.

Tambahan penghasilan dari sampah sachet plastik juga dialami pengumpul lainnya di Ngablak, Tarini, 46. Dengan mencoba mengumpulkan dan mencuci sampah sachet plastik nenek tiga cucu itu mendapatkan uang Rp 120.000-Rp 200.000/bulan.

“Ono sing gelem tuku yo tak coba (ada yang mau beli sampah sachet plastik ya saya coba-red),” tuturnya.

Pameran

Sampah sachet plastik yang telah dibersihkan kemudian diproses lebih lanjut. Diukur dan digunting sesuai kebutuhan untuk selanjutnya dijahit. Fajar bersama suaminya, Darmawan, 50, biasanya membuat produk di malam hari ketika orang-orang sedang asyik beristirahat.

“Kami biasa kerja di malam hari. Lebih tenang,” kata Darmawan.

Untuk mengenalkan kerajinan daur ulang sampah plastik butuh proses yang lama. Fajar gigih memasukkan proposal agar bisa diikutsertakan sebagai peserta pameran. Awalnya, ketika belum dikenal, dia kesulitan untuk menembus berbagai instansi.

Lama kelamaan Fajar justru sering dikontak dan diajak ikut pameran. Dia memakai nama Radite Collection untuk memperkenalkan produk dari UKMnya.

Tahun 2010 ini, dia sudah ikut pameran sebanyak delapan kali. Sejumlah pihak mulai mengontaknya untuk mengajak pameran dari mulai tingkat kabupaten sampai nasional.

“Lewat pameran itulah produk yang kami buat di pucuk gunung bisa dikenal masyarakat luas bahkan dari luar Jawa,” imbuhnya sembari tertawa.

Pembeli kerajinan daur ulang sampah plastik sementara ini masih kalangan menengah ke atas. Kerajinan daur ulang sampah plastik itu dijual dengan harga bervariasi, yaitu dompet koin Rp 5.000/biji, tempat HP Rp 12.500/biji-Rp 15.000/biji, travel bag Rp 350.000/biji, payung Rp 150.000 dan sebagainya.

Produk yang dihasilkan di tempat Fajar rata-rata 10-20 unit per hari. Meski demikian, kadang ada pesanan yang datang tiba-tiba dalam jumlah besar. “Sekarang, ada pesanan dari Papua dan Kalsel berupa payung dan tas laptop,” tambahnya.

Sebuah asa terselip pada diri Fajar. Dia ingin makin banyak orang yang bisa berbuat untuk mengurangi jumlah sampah plastik. Dengan harapan membuat bumi tempat berpijak ini ikut senang.

Editor: | dalam: News |
Menarik Juga »