Kamis, 30 September 2010 20:01 WIB Issue Share :

Jika bebas, Adjie Notonegoro terancam dipenjara lagi

Jakarta –– Desainer Adjie Notonegoro sangat berharap bisa bebas dalam sidang penggelapan uang 5 Oktober 2010 mendatang. Kalaupun nantinya Adjie dibebaskan, ia tetap terancam masuk penjara lagi, karena dituduh menipu perempuan bernama Dewi Cinta.

Dewi Cinta sudah melaporkan Adjie ke Polda Metro Jaya pada Juli 2010 lalu. Ia dituduh melakukan penipuan karena tidak membayar utangnya Rp 100 juta. Sedangkan saat ini Adjie masih menjalankan persidangan sebagai terdakwa penggelapan uang yang dilaporkan Melvin.

Pengacara Dewi Cinta, Yaser Arafat, pun menanggapi rencana pemberian penangguhan penahanan pada Adjie dalam sidang 5 Oktober mendatang. “Yang jelas, selesaikan dulu kewajiban dia untuk mengembalikan uang pinjamannya. Penangguhan penahanan itu syaratnya tidak akan mengulangi perbuatan, melarikan diri, penghilangan barang bukti, keadaan fisik. Kalau ternyata ada lagi yang tertipu bagaimana itu,” jelas pengacara Yaser Arafat, saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (30/9).

Bersama pengacaranya, Dewi menjelaskan maksud kedatangannya ke Polda Metro Jaya. Dewi menjalani pemeriksaan lanjutan soal bantahan Adjie atas tudingan penipuan yang menimpa dirinya.

“Nggak (akan cabut laporan), tetap jalan. Justru malah ingin maju terus karena Mas Adjie sudah menyangkal kejadian itu (utang-utang tadi itu). Kalau dia bilang, ‘aku nggak punya duit dan bagaimana cara bayarnya. Aku nggak akan lapor polisi’. Tapi dia selalu bilang duitnya ada dan berjanji akan membayar meski meleset terus,” papar Dewi.

Jadi, meski paman Ivan Gunawan itu diputuskan ditangguhkan penahannya, ia bisa tetap dipenjara karena kasus penipuan lain. “Misalnya diputus bebas (ditangguhkan), terus perkara saya naik, dia masuk lagi deh ke Cipinang,” jelas Dewi.


dtc/tya

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…